Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Sahur

Sahur Ramadhan


bulan ramadhan
Assalamualaikum wr. wb. Pembaca yang budiman.
Pada kesempatan ini saya ingin mengulas beberapa pertanyaan tentang Sahur yang mungkin sering menjadi pertanyaan. Sahur adalah aktivitas makan atau minum yang dilakukan pada dini hari sebelum menjalankan puasa. Sahur merupakan salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilakukan bagi umat islam yang akan menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan rizki yang berkah kepada kita sehingga kita dapat menunaikan Sahur pada malam hari sebelum menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

  1. Sudah masuk waktu imsak apakah masih boleh makan?
Masih diperbolehkan makan dan minum meski sudah masuk waktu imsak. Puasa dimulai sejak terbit fajar atau adzan shubuh, bukan waktu imsak yang kita kenal sekarang.
Istilah imsak seringkali dimaknai berbeda dan mengalami pergeseran arti. Sesungguhnya makna imsak adalah menahan diri dari makan dan minum dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, jadi sebenarnya imsak adalah berpuasa itu sendiri. Sedangkan imsak yang kita kenal hari ini adalah waktu persiapan sebelum masuk adzan shubuh kurang lebih 5 sampai 10 menit. Sehingga imsak bisa dijadikan pengingat bahwa waktu subuh akan segera tiba dan kita harus menyegerakan untuk menyelesaikan sahur kita. Jadi imsak itu bukan waktu shubuh sehingga masih diperbolehkan makan dan minum. 

  1. Apakah sah puasanya bila kita tidak makan sahur?
Makan sahur bukanlah syarat sahnya puasa Ramadhan, melainkan sunnah. Para ulama telah sepakat tentang sunnahnya sahur untuk puasa.
 Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah, karena sahur itu barakah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sehingga apabila seseorang menunaikan puasa tanpa sahur, puasanya tetap sah. Dasarnya adalah Rasulullah SAW juga pernah berpuasa tanpa makan sahur.

  1. Bila kita tidak punya makanan untuk sahur, apakah tetap disunnahkan untuk sahur?
Sahur tetap sunnah meskipun tidak ada makanan. Cukup dengan segelas air putih saja sudah disunnahkan.
 Dari Abi Said al Khudri ra. “Sahur itu barakah, maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad)

  1. Makan sahur yang tepat itu jam berapa ya?
Disunnahkan untuk mengakhirkan makan sahur mendekati waktu shubuh.
 Dari Abu Dzar al ghifari ra. dengan riwayat marfu’, “Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan buka puasa dan mengakhirkan sahur”. (HR. Ahmad)
Maka sahur kurang baik bila dilakukan terlalu malam seperti jam 02.00 dini hari, meskipun tidak terlarang. Praktek sahur yang dilakukan Rasulullah SAW adalah berlomba-lomba dengan datangnya waktu fajar.

  1. Ada Hadits yang menyebutkan bahwa meski sudah adzan shubuh kita masih boleh makan dan minum?
Memang benar ada hadits yang zahirnya membolehkan kita makan dan minum meski sudah terdengar adzan, diantaranya adalah hadits berikut :
“Jika salah seorang di antara kalian mendengarkan adzan sedangkan wadah terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan wadah tersebut hingga ia menunaikan hajatnya hingga selesai.” (HR. Abu Daud)
Iqamat dikumandangkan sedangkan gelas masih di tangan Umar bin Khattab, dia bertanta kepada Rasulullah SAW, “apakah aku boleh meminumnya?”. Beliau menjawab, “boleh”. Maka Umar pun meminumnya. (HR. Ibnu Jarir)

Ada sebagian orang yang menangkap hadits di atas secara lahiryah saja sehingga meskipun sudah masuk waktu shubuh dia tetap asyik makan.
Tentu hal ini bertentangan dengan ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa batasan puasa adalah terbit fajar

“Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah: 187)

Maka kedua nash yang saling bertentangan ini harus dipertemukan. Para ulama menyebutnya dengan istilah thariqatul jam’i

Alternatifnya yang paling mendekati adalah bahwa yang dimaksud dengan adzan pada hadits di atas bukan adzan shubuh, melainkan adzan yang dikumandangkan dalam rangka untuk membangunkan orang untuk shalat malam.

Perlu diketahui bahwa adzan pada zaman Rasulullah SAW dikumandangkan dua kali. Adzan yang pertama dikumandangkan oleh Bilal, waktunya beberapa saat sebelum fajar terbit. Adzan yang kedua adalah adzan yang dikumandangkan oleh Ibnu Ummi Maktum, waktunya adalah saat fajar terbit. yang juga merupakan adzan dimulainya puasa dan masuknya waktu shalat shubuh.
Hal itu menurut hadits :

“Bilal mengumandangkan adzan pada suatu malam, maka Rasulullah SAW bersabda, “Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena dia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq.” (HR. Bukhari)

Imam An Nawawi mengatakan bahwa bila fajar terlah terbit sedangkan makanan masih di mulut, maka hendaklah dimuntahkan dan dia boleh meneruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya. Hal ini sama sekali tidak ada perselisihan di antara para ulama.

Syaikh Shalih Al Munajjid dengan beralasan bahwa kebanyakan muadzin melantunkan adzan sebelum waktunya, mengatakan bahwa bila adzan dikumandangkan sebelum waktu fajar benar-benar terbit, tidaklah dianggap sebagai terbit fajar yang yakin.

Jika makan saat dikumandangkan adzan semacam itu, puasanya tetap sah. Karena ketika itu terbit fajar masih sangkaan (bukan yakin). Namun tetap saja beliau berhati-hati dengan berhenti makan ketika itu.

Sumber:
Buku “60 Tanya Jawab Seputar Puasa & Ramadhan”  ditulis oleh Ustadz Ahmad Sarwat, LC. MA diterbitkan oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah







Sahur Ramadhan


bulan ramadhan
Assalamualaikum wr. wb. Pembaca yang budiman.
Pada kesempatan ini saya ingin mengulas beberapa pertanyaan tentang Sahur yang mungkin sering menjadi pertanyaan. Sahur adalah aktivitas makan atau minum yang dilakukan pada dini hari sebelum menjalankan puasa. Sahur merupakan salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilakukan bagi umat islam yang akan menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan rizki yang berkah kepada kita sehingga kita dapat menunaikan Sahur pada malam hari sebelum menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

  1. Sudah masuk waktu imsak apakah masih boleh makan?
Masih diperbolehkan makan dan minum meski sudah masuk waktu imsak. Puasa dimulai sejak terbit fajar atau adzan shubuh, bukan waktu imsak yang kita kenal sekarang.
Istilah imsak seringkali dimaknai berbeda dan mengalami pergeseran arti. Sesungguhnya makna imsak adalah menahan diri dari makan dan minum dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, jadi sebenarnya imsak adalah berpuasa itu sendiri. Sedangkan imsak yang kita kenal hari ini adalah waktu persiapan sebelum masuk adzan shubuh kurang lebih 5 sampai 10 menit. Sehingga imsak bisa dijadikan pengingat bahwa waktu subuh akan segera tiba dan kita harus menyegerakan untuk menyelesaikan sahur kita. Jadi imsak itu bukan waktu shubuh sehingga masih diperbolehkan makan dan minum. 

  1. Apakah sah puasanya bila kita tidak makan sahur?
Makan sahur bukanlah syarat sahnya puasa Ramadhan, melainkan sunnah. Para ulama telah sepakat tentang sunnahnya sahur untuk puasa.
 Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah, karena sahur itu barakah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sehingga apabila seseorang menunaikan puasa tanpa sahur, puasanya tetap sah. Dasarnya adalah Rasulullah SAW juga pernah berpuasa tanpa makan sahur.

  1. Bila kita tidak punya makanan untuk sahur, apakah tetap disunnahkan untuk sahur?
Sahur tetap sunnah meskipun tidak ada makanan. Cukup dengan segelas air putih saja sudah disunnahkan.
 Dari Abi Said al Khudri ra. “Sahur itu barakah, maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad)

  1. Makan sahur yang tepat itu jam berapa ya?
Disunnahkan untuk mengakhirkan makan sahur mendekati waktu shubuh.
 Dari Abu Dzar al ghifari ra. dengan riwayat marfu’, “Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan buka puasa dan mengakhirkan sahur”. (HR. Ahmad)
Maka sahur kurang baik bila dilakukan terlalu malam seperti jam 02.00 dini hari, meskipun tidak terlarang. Praktek sahur yang dilakukan Rasulullah SAW adalah berlomba-lomba dengan datangnya waktu fajar.

  1. Ada Hadits yang menyebutkan bahwa meski sudah adzan shubuh kita masih boleh makan dan minum?
Memang benar ada hadits yang zahirnya membolehkan kita makan dan minum meski sudah terdengar adzan, diantaranya adalah hadits berikut :
“Jika salah seorang di antara kalian mendengarkan adzan sedangkan wadah terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan wadah tersebut hingga ia menunaikan hajatnya hingga selesai.” (HR. Abu Daud)
Iqamat dikumandangkan sedangkan gelas masih di tangan Umar bin Khattab, dia bertanta kepada Rasulullah SAW, “apakah aku boleh meminumnya?”. Beliau menjawab, “boleh”. Maka Umar pun meminumnya. (HR. Ibnu Jarir)

Ada sebagian orang yang menangkap hadits di atas secara lahiryah saja sehingga meskipun sudah masuk waktu shubuh dia tetap asyik makan.
Tentu hal ini bertentangan dengan ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa batasan puasa adalah terbit fajar

“Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah: 187)

Maka kedua nash yang saling bertentangan ini harus dipertemukan. Para ulama menyebutnya dengan istilah thariqatul jam’i

Alternatifnya yang paling mendekati adalah bahwa yang dimaksud dengan adzan pada hadits di atas bukan adzan shubuh, melainkan adzan yang dikumandangkan dalam rangka untuk membangunkan orang untuk shalat malam.

Perlu diketahui bahwa adzan pada zaman Rasulullah SAW dikumandangkan dua kali. Adzan yang pertama dikumandangkan oleh Bilal, waktunya beberapa saat sebelum fajar terbit. Adzan yang kedua adalah adzan yang dikumandangkan oleh Ibnu Ummi Maktum, waktunya adalah saat fajar terbit. yang juga merupakan adzan dimulainya puasa dan masuknya waktu shalat shubuh.
Hal itu menurut hadits :

“Bilal mengumandangkan adzan pada suatu malam, maka Rasulullah SAW bersabda, “Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena dia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq.” (HR. Bukhari)

Imam An Nawawi mengatakan bahwa bila fajar terlah terbit sedangkan makanan masih di mulut, maka hendaklah dimuntahkan dan dia boleh meneruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya. Hal ini sama sekali tidak ada perselisihan di antara para ulama.

Syaikh Shalih Al Munajjid dengan beralasan bahwa kebanyakan muadzin melantunkan adzan sebelum waktunya, mengatakan bahwa bila adzan dikumandangkan sebelum waktu fajar benar-benar terbit, tidaklah dianggap sebagai terbit fajar yang yakin.

Jika makan saat dikumandangkan adzan semacam itu, puasanya tetap sah. Karena ketika itu terbit fajar masih sangkaan (bukan yakin). Namun tetap saja beliau berhati-hati dengan berhenti makan ketika itu.

Sumber:
Buku “60 Tanya Jawab Seputar Puasa & Ramadhan”  ditulis oleh Ustadz Ahmad Sarwat, LC. MA diterbitkan oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah

Materi Penyuluhan : Kemoterapi + Flip chart

PENYULUHAN KEMOTERAPI DAN FLIP CHAT KEMOTERAPI


  1. Pengertian Kemoterapi
Kemoterapi adalah suatu metode pengobatan yang bertujuan untuk membunuh sel kanker dengan obat kanker dengan cara menghambat proliferasi sel. (Munir, 2005). Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika (zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker. Obat-obatan kemoterapi biasanya diberikan melalui suntikan atau infus. Kemoterapi lebih sering diberikan setelah operasi untuk menghilangkan kanker atau menurunkan kemungkinan munculnya kanker kembali.

Materi Penyuluhan : Kemoterapi + Flip chart, kemoterapi
Kemoterapi
  1. Tujuan Pemberian Kemoterapi
  1. Sebagai pengobatan kanker
  2. Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.
  3. Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hiduppasien.
  4. Mengurangi komplikasi akibat metastase.

  1. Cara kerja kemoterapi
Kemoterapi bekerja dengan menghentikan sel-sel yang sedang tumbuh secara cepat, sehingga beberapa sel-sel tubuh normal seperti akar rambut dapat juga mengalami gangguan pertumbuhan selama mendapatkan kemoterapi, tetapi tubuh akan dapat memperbaikinya (itu sebabnya rambut akan kembali tumbuh setelah selesainya kemoterapi). Sel-sel kanker akan lebih sulit untuk dapat memperbaiki setelah mendapatkan kemoterapi, sehingga kemoterapi memang lenih selektif menghancurkan sel-sel kanker.

  1. Jenis kemoterapi
    1. Kemoterapi induksi, ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan masa tumor atau jumlah sel kanker.
    2. Kemoterapi primer, dimaksudkan sebagai pengobatan utama padatumor ganas, diberikan pada kanker yang bersifat kemosensitif, biasanya diberikan dulu sebelum pengobatan lain seperti bedah dan radiasi
    3. Kemoteraopi neo-adjuvan, dilakukan sebelum operasi dengan tujuan untuk memperkecil sel tumor sehingga saat dilakukan operasi.
    4. Kemoterapi adjuvan , dilakukan setelah operasi dengan tujuan untuk menghilangkan sel tumor yang mungkin masih tersisa setelah dilakukan operasi atau radioterapi.
    5. Kemoterapoi kombinasi, menggunakan 2 atau lebih agen kemoterapi
    6. Chemoradiation, diberikan bersamaan dengan radiasi dengan tujuan memperkecil kemungkinan kambuh

  1. Cara pemberian kemoterapi
  1. Pemberian per oral
Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran®, Alkeran®,Myleran®, Natulan®, Puri-netol®, hydrea®, Tegafur®, Xeloda®,Gleevec®.

  1. Pemberian melalui intra vena/ selang infus
Cara yang paling sering dilakukan karena lebih efektif dan efek terapi obat lebih cepat.

  1. Pemberian secara subcutan/ intramuscular (injeksi)
Cara ini jarang dilakukan karena sangat beresiko, bisa menimbulkan syok anafilaksis.

  1. Syarat pemberian kemoterapi
    1. Keadaan umum harus cukup baik, Usia <70 tahun
    2. Memahami tujuan dan efek samping yang terjadi
    3. Semua hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil yang normal (Hb diatas 10,9; Leukosit diatas 5.000/mm3; Trombosit diatas 150.000/UL; Natrium 136-144 mmol/L; Kalium 3,8-5,0 mmol/L; Klorida 97-103 mmol/L)
    4. Mendapat persetujuan baik dari pasien maupun dari keluarga. Hal ini sangat penting, karena kemoterapi merupakan salah satu pengobatan pada kanker yang membutuhkan biaya yang mahal, memiliki efek samping yang sangat besar pada kondisi pasien nantinya, dan termasuk obat yang berbahaya.

  1. Efek samping dan penanganan kemoterapi
  1. Mual Muntah.
Penyebab mual dan muntah yang diakibatkan dan juga merupakan efek dari pemberian kemoterapi ini adalah karena pengaruh obat kemoterapi yang digunakan tersebut terhadap dinding lambung dan juga bagian otak yang mengontrol muntah. Cara perawatan kanker atau cara mengatasi efek samping dari mual muntah ini bisa dilakukan dengan :
  1. Makan dalam porsi kecil (namun sering).
  2. Menghindari makanan yang berlemak dan juga berbau tajam.
  3. Minum air yang banyak agar tubuh tidak kekurangan cairan.
  4. Jika keadaan bertambah berat, mintalah dokter untukmemberikan obat untuk mengatasi mual dan muntah tersebut.

  1. Mencret (Diare) atau Sulit BAB
Tanda gejala penyakit kanker atau lebih tepatnya diare atau mencret akibat kemoterapi ini disebabkan oleh karena pengaruh kemoterapi terhadap sel pelapis usus. Tips mengatasi efek samping kemo ini adalah sebagai berikut:
  1. Bila terjadi diare :
Minum banyak air dan juga makan makanan yang lunak seperti halnya pisang, bubur atau pun roti.

  1. Bila sulit BAB (sembelit) :
Cara mengatasi sembelit adalah dengan mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah-buahan.

  1. Rambut Rontok.
Akibat kemoterapi yang mudah dan sering kali kita jumpai pada pasien tekait kanker yang sedang menjalani metode pengobatan kemoterapi ini adalah rambut yang rontok dan mudah rontok. Karena memang kemo bisa menyebabkan terjadinya kerontokan rambut. Dan ini pada umumnya akan bisa tumbuh lagi rambutnya setelah selesai menjalani terapi kemoterapi itu sendiri.
Cara mengatasi rambut rontok adalah dengan :
  1. Memilih model rambut yang pendek sehingga kerontokannya tidak terlalu mencolok.
  2. Bila pada pasien penyakit kanker wanita bisa juga dengan menggunakan kerudung, selendang. Pada laki-laki bisa dengan memakai topi, sorban atau juga alternatif  lainnya dengan memakai rambut palsu untuk dalam rangka menutupi kerontokan rambut tersebut.

  1. Sariawan
Obat kemo bisa juga merusak sel-sel pelapis rongga mulut sehingga menimbulkan sariawan.Cara mengatasi sariawan karena kemo adalah bisa dengan kita melakukan hal-hal seperti :
  1. Gosok gigi setiap selesai makan menggunakan sikat gigi berbulu halus.
  2. Setelah menggosok gigi berkumurlah dengan 1/2 sendok teh soda kue atau garam yang dicampur dengan satu gelas air.
  3. Jangan menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol.
  4. Memilih makanan lunak atau lembek yang tidak terlalu merangsang mulut

  1. Kekurangan Darah
Pengobatan kanker juga bisa mengurangi sel darah merah (sel darah yang mempunyai tugas dan fungsi menghantarkan oksigen keseluruh tubuh). Sehingga efek samping yang dirasakan oleh para pasien yang menjalani pengobatan dan perawatan kanker adalah letih, lesu, lemah, berkunang-kunang sesak dan tanda gejala lainnya. Untuk mengatasinya bisa dilakukan dengan cara cukup istirahat (karena manfaa tidur adalah besar bagi tubuh manusia), dan juga mengkonsumsi makanan yang bergizi agar mampu melawan keletihan dan kelemahan akibat dari kekurangan darah.

  1. Mudah Terserang Infeksi.
Karena pengaruh dalam terapi kemo ini akan bisa mengakibatkan penurunan sel darah putih sehingga tubuh akan lebih mudah untuk terserang infeksi dan juga kuman penyakit. Berikut beberapa cara tips mencegah infeksi adalah dengan :
  1. Cuci tangan sesering mungkin.
  2. Menghindari mereka yang sedang sakit agar tidak tertular.
  3. Memakai masker untuk menghindari tertular penyakit pernafasan.

  1. Kelelahan
Perasaan letih akan terjadi karena beberapa sebab diantaranya yaitu karena penyakit kanker itu sendiri, penanganan penyakit, aspek emosional yang terkait dengan kanker dan nyeri kanker, serta karenaanemia (kurang darah). Mengatasi rasa letih tersebut dapat dilakukan dengan cara :
  1. Lakukan istirahat di kursi yang nyaman
  2. Lakukan olahraga ringan seperti berjalan
  3. Cobalah melakukan aktifitas ringan yang menyenangkan
  4. Mintalah teman atau keluarga untuk membantu melakukan pekerjaan yang berat
  5. Hemat tenaga yang dimiliki

  1. Perubahan pada Kulit dan Kuku
Beberapa jenis obat kemoterapi dapat menyebabkan perubahan pada kulit dan kuku. Kulit mungkin akan berubah menjadi lecet, kering, kemerahan atau adanya rasa nyeri yang tidak nyaman dan mengakibatkan hiperpigmentasi. Hiperpigmentasi adalah berubahnya warna kulit menjadi lebih gelap daripada sebelumnya. Hal tersebut biasanya terjadi setelah tiga minggu dimulainya pengobatan. Hiperpigmentasi ini akan berkurang setelah 10-12 minggu obat dihentikan. Kuku mungkin akan berubah menjadi kehitaman, kuning atau pecah-pecah. 

  1. Masalah ringan pada kulit dapat diatasi dengan :
    1. Gunakan sabun yang lembut untuk kulit
    2. Gunakan lotion atau krim kulit yang lembut
    3. Hindari penggunaan produk untuk kulit yang mengandung  alcohol atau parfum
      4. Hindari terkena sinar matahari dalam waktu yang lama
    4. Jika berada di luar, gunakan pelembab bibir, krim pencegah sinar matahari (sunblock), pakaian yang panjang dan penutup kepala.
    5. Mandi dengan air hangat.

  1. Masalah pada kuku akibat efek samping kemoterapi dapat dikurangi dengan :
    1. Kuku dalam keadaan bersih dan pendek
    2. Gunakan sarung tangan untuk mencuci, berkebun ataumembersihkan rumah
    3. Jika masalah kulitdan kuku terus berkembang, konsultasikan dengan dokter

  1. Bengkak
    Bengkak dapat disebabkan oleh kemoterapi. Beberapa jenis kanker atau akibat adanya perubahan hormon dapat menyebabkan bengkak baik pada wajah, lengan, tangan, kaki atau perut. Hal-hal yang dapat mengurangi bengkak yaitu :
  1. Gunakan stocking atau kaus kaki khusus dapat didiskusikandengan dokter atau perawat
  2. Gunakan pakaian yang tidak ketat
  3. Hindari pemakaian alas kaki dengan hak tinggi
  4. Tinggikan kaki dengan bantal atau ganjalan lainnya saat dudukatau berbaring
  5. Tidak berdiri atau berjalan terlalu lama 
  6. Hindari makanan dengan kandungan garam tinggi
  7. Cek label makanan, jika makanan tersebut mengandung sodium lebih baik dihindari.

  1. Gangguan pada Saraf
  1. Beberapa pasien yang mendapatkan kemoterapi kemungkinan pernah mengalami mati rasa atau lemas pada tangan atau kaki. Gejala yang berhubungan dengan adanya masalah dengan persarafan, diantaranya :
  2. Kesulitan fokus terhadap objek, misalnya kesulitan mengancingkan baju
  3. Gangguan keseimbangan pada tubuh
  4. Kesulitan berjalan
  5. Nyeri pada rahang
  6. Kehilangan pendengaran
  7. Segera konsultasi ke dokter apabila mengalami gangguan tersebut.

  1. Interval Pemberian Kemoterapi
  1. Pemberian kemoterapi dilakukan selama 6 siklus/ 6x kemoterapi dengan jarak antar kemoterapi selama 21 hari.
  2. Bila dalam jarak 21 hari keadaan umum pasien baik dan hasil lab normal, maka pasien bisa langsung menjalani kemoterapi. Namun jika tidak, maka harus dilakukan perbaikan keadaan umum pasien terlabih dahulu.

  1. Saran/ Anjuran bagi Pasien yang menjalani Kemoterapi
    1. Makan makanan yang bernutrisi tinggi.
    2. Perbanyak konsumsi makanan yang mangandung anti-oksidan tinggi. Beberapa makanan yang kaya akan anti-oksidan diantaranya kurma, kismis, stawbery, anggur merah, teh hijau,  bayam, cengkeh, kedelai, wortel, tomat, apel dan kiwi.
    3. Menjalankan kemoterapi sesuai jadwal yang telah diberikan oleh dokter.


DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F. Gary,Gant. 2005. Obstetri Williams Vol2. Jakarta: EGC
Gloria M. Bulechek, Howard K. Butcher, Joanne McCloskey Dochterman. 2013. Nursing Intervention Classifications (NIC). United States of America : Elsevier Mosby.
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds). 2014. NANDA International Nursing Diagnoses: Definition and Classification, 2015-2017. Oxford: Wilcy Blackwell.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2003. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi. Ed.2. Jakarta: EGC.
Rasjdi, Imam. 2007. Kemoterapi Kanker Ginekologi Dalam Praktek Sehari-hari.
Jakarta : Sagung Seto.
Shirley e, otto. 2005. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta. Egc




--- Flip chart ---




 


Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat


PUASA RAMADHAN

PUASA



Assalamualaikum wr. wb para Pembaca yang budiman. Tidak terasa bulan yang penuh berkah dan keutamaan yaitu bulan Ramdhan telah datang. Bulan yang dimuliakan oleh Allah yang yang senantiasa disambut oleh umat muslim dengan suka cita dan hati berbunga-bunga dan kemudian mengiringinya dengan semangat untuk beribadah, Insya Allah. Alhamdulillah Allah masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, yang berarti oleh Allah kita telah diberikan kesempatan untuk meminta ampun kepada-Nya agar dihapuskan dosa-dosa kita, dan dibukakan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta dilapangkan kemudahan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya demi menggapai ridha-Nya.

Di bulan Ramdhan ini ada ibadah istimewa yang Allah wajibkan kepada seluruh umat Islam yaitu berpuasa. Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al Baqarah ayat 183 : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Pembaca yang budiman, seringkali Saya menemui pertanyaan-pertanyaan perihal berpuasa yang membuat hati Saya galau merana. Misal pertanyaan seperti bagaimana niat berpuasa yang benar, bagaimana peraturan mengganti puasa yang ditinggalkan, hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, seperti apa udzur yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan pertanyaan lainnya. Mungkin bukan hanya Saya, barangkali Pembaca sekalian juga mendapati pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi tanda tanya.

Pembaca yang budiman, pada artikel ini Saya ingin menuliskan tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan tentang puasa dan mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Tentu saja jawaban dan ulasan atas pertanyaan tersebut bukan opini Saya pribadi yang masih perlu banyak belajar ini, tetapi Saya ambil dari sebuah buku yang alhamdulillah berhasil memberikan pencerahan atas kegalauan hati Saya. Buku tersebut ditulis oleh Al Ustadz Ahmat Sarwat, LC. MA, berjudul “60 Tanya Jawab Seputar Puasa dan Ramadhan” diterbitkan oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF). Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat memberikan sedikit informasi dan pengetahuan khususnya tentang puasa dan Ramdhan. Untuk artikel pertama Saya ingin menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang niat.

  1. Apakah kita wajib niat berpuasa sejak malam hari?
Jumhur ulama sepakat bahwa niat untuk berpuasa fardhu harus sudah dilakukan sejak sebelum memulai puasa. Dan puasa wajib itu tidak sah bila tidak berniat sebelum waktu fajar itu.
Dalam fiqih, hal seperti ini diistilahkan dengan tabyit an-niyah yaitu memabitkan niat. Maksudnya, niat itu harus sudah dipasang sejak semalam, batas akhirnya ketika fajar shubuh hampir terbit. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :
Dari Hafshah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Tirmidzy, An Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Namun, untuk puasa sunnah tidak harus dipasang niat sejak malam. Jadi dapat dilakukan saat siang hari, atau tiba-tiba berniat puasa pada tengah hari asalkan masih belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

  1. Apakah tiap malam harus ada niat tersendiri? Bolehkah niatnya digabung untuk sebulan ke depan?
Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pada setiap malam yang besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Satu niat tidak dapat digunakan untuk niat satu bulan. Hal ini karena masing-masing hari merupakan ibadah yang terpisah-pisah dan bukan merupakan satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang dapat berniat puasa di suatu hari dan dapat pula berniat tidak berpuasa di hari yang lain. Oleh karena itu jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat di setiap hari sebelum melaksanakan puasa meskipun tidak dilafadzkan.
Sedangkan kalangan fuqaha dari Al Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajibkan hal itu. Bahkan bila mengacu pada ayat Al Qur’an , jelas sekali bahwa niat berpuasa Ramadhan itu untuk satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari. Ayat yang dimaksud adalah :
“…Siapa diantara kalian yang menyaksikan Bulan (Ramadhan), maka berpuasalah…” (QS. Al Baqarah: 185)

  1. Apakah niat itu harus dilafazkan dengan “Nawaitu shauma ghadin”?
Para ulama sepakat bahwa seseorang yang sekedar melafadzkan niat seperti di atas maka hukumnya belum sampai kepada niat itu sendiri. Sebab niat tersebut baru sampai pada lisan saja padahal hakikatnya niat itu berasal dari dalam hati. Sehingga pada dasarnya niat itu tidak harus dilafadzkan.

Demikian ulasan mengenai pertanyaan-pertanyaan tentang puasa dan Ramadhan yang sering ditanyakan tentang niat. Semoga artikel ini berguna dan bermanfaat. Di artikel berikutnya, Saya akan membahas tentang pertanyaan-pertanyaan seputar puasa dan Ramdhan yang lain. Insya Allah…
Terima kasih   

Assuhan Keperawatan Kegawatan Kehamilan: Trombosis Vena

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Fisiologi Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta/ari) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau pun bisa melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba 2010).

Proses terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kontraksi (his). Tersapat dua hormon yang dominan saat wanita dalam kondisi hamil, hormon tersebut antara lain adalah:

Hormon
Fungsi
Esterogen
1.     Meningkatkan sensitivitas otot rahim
2.     Memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis
Progesteron
1.    Menurunkan sensitivitas otot rahim
2.    Menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis
3.    Menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi.

Adapun gejala persalinan antara lain sebagai berikut:
  1. Adanya kontraksi atau his yang semakin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek
  2. Keluarnyalendir bercampur darah
  3. Dapat disertai amnion pecah
  4. Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks:
1)   Perlunakan serviks
2)   Pendataran serviks
3)   Terjadi pembukaan serviks

Faktor-faktor yang penting dalam persalinan adalah sebagai berikut:
1.    Power
1)   HIS (kontraksi otot rahim)
2)   Kontraksi otot dinding perut
3)   Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
4)   Ketegangan dan kontraksi ligamentum retundum

2.    Passanger (janin dan plasenta)
3.    Passageways (jalan lahir)
4.    Psycho (psikologis)
5.    Provider (tenaga kesehatan terampil dan non tenaga kesehatan)

Janin terletak dalam kantong amnion yang dilapisi oleh amnion pada bagian dalam dan chorion pada bagian luar. Bersamaan dengan diferensiasi jonjot korion yang menjadi plasenta padadaerah basal selaput lendir ibu (Chorion frondosum),  rongga amnion yang awalnya berupa gelembung kecil pada daerah embrioblas membesar dengan embrio yang berkembang di dalamnya sehingga bagian toproblas yang mengarah ke rongga rahim dan selaput lendir ibu (desidua capsularis) sedikit-demi sedikit bersamaan tertekan dan berdegenerasi (Rohen 2009).

Pada akhirnya desidua kapsularis bersama dengan desidua parietalis menyatu dan lumen uterus akan menghilang sehingga terbentuklah amnion beserta cairan amnionnya. Amnion beserta cairan amnion ini memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
  1. Proteksi         : Pelindung janin terhadap trauma ekterna;
  2. Mobilisasi      : Memungkinkan ruang gerak bagi janin;
  3. Homeostatis : Menjaga keseimbangan suhu dan keseimbangan asa basa dalam rongga amnion;
  4.  Mekanik        : Menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh intra uterin;
  5. In partu         : Membersihkan atau melicinkan jalan lahir dengan cairan steril sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir (Yulaikha 2006).

Pada saat kelahiran, akan terjadi robekan amnion (ruptur amnion), air amnion akan mengalir keluar dan anak terdorong keluar dari jalan lahir. Seringkali amnion pecah mendekati akhir kala dua, akan tetapi pecahnya amnion juga dapat terjadi setiap saat sebelum atau selama persalinan (Rohen 2009).
Assuhan Keperawatan Kegawatan Kehamilan: Trombosis Vena
KEHAMILAN



Gambar 2.1 Perkembangan rongga amnion dan amnion pada proses embriogenesis

2.2  Trombosis Vena
Definisi trombosis vena
Trombosis adalah terjadinya bekuan darah di dalam sistem kardiovaskuler termasuk arteri, vena, ruangan jantung dan mikrosirkulasi (Tambunan 2001). Trombosis vena merupakan pembentukan gumpalan darah terkonsentrasi di vena dan komplikasi dari thrombosis vena ini adalah emboli paru yang dapat mengancam kehidupan. Thrombosis vena dapat terjadi karena adanya tromboflebitis. Tromboflebitis adalah inflamasi dinding vena, sering disertai dengan pembentukan bekuan. Ketika bekuan pertama kali terjadi dalam vena sebagai akibat stasis atau hiperkoagulanilitas, tetapi tanpa inflamasi, proses ini disebut sebagai flebotrombosis. Thrombosis vena dapat terjadi dimana saja pada vena tetapi yang paling sering adalah vena pada ektermitas bawah. Baik vena superfisial atau vena profunda dari tungkai dapat terkena. Bahaya yang berkaitan dengan thrombosis vena adalah dimana bagian bekuan dapat terlepas dan menyebabkan sumbatan embolik pada pembuluh darah pulmonal. Trombosis vena dalam (deep vein thrombosis, DVT) merupakan kondisi di mana darah pada vena-vena profundus pada tungkai atau pelvis membeku. Emboli dari thrombus menimbulkan emboli paru (pulmonary embolus, PE). Sementara kerusakan vena lokal dapat menyebabkan hipertensi vena kronis dan ekstermitas pascafeblitis (postpheblitic limb, PPL).

Klasifikasi trombosis vena
Ada berbagai jenis trombosis diklasifikasikan dalam trombosis vena dan ini adalah:
  1. Deep Vein Trombosis (DVT)
Penggumpalan darah jenis ini terbentuk dari jaringan di dalam vena dan umumnya mempengaruhi vena ekstermitas bawah. Penggumpalan terjadi dalam pembuluh darah dan tidak dapat dilihat melalui kulit. Hal ini terjadi terutama di betis kecuali selama kehamilan maka bekuan biasanya terletak dalam panggul dan paha.
DVT, Assuhan Keperawatan Kegawatan Kehamilan: Trombosis Vena

  1. Portal Vein Trombosis (PVT)
Jenis trombosis mempengaruhi pembuluh darah portal yang dapat menyebabkan hipertensi portal sehingga menghasilkan penurunan aliran darah ke hati. Hal ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pada splen. Penyebab trombosis adalah karena kanker di hati, pankreas dan perut serta abses hati. Infeksi pusar adalah penyebab umum dari trombosis vena portal pada bayi baru lahir.

  1. Renal Vein Trombosis (RVT)
Hal ini terjadi terutama pada pasien dengan sindrom nefritik. Pembentukan bekuan dalam jenis ini merupakan trombosis di vena yang mengalirkan darah di ginjal.

  1. Cerebral Venous Sinus Trombosis (CVST).
Bentuk thrombosis yang parah dan jarang terjadi pada anak-anak dan usia dewasa muda. Thrombosis ini paling sering terjadi pada perempuan. Penyebabnya sulit ditentukan dan trombosis ini diyakini menjadi penyebab umum dari stroke.

  1. Jugular Vein Trombosis (JVT).
Suatu bentuk trombosis di jugularis internal atau eksternal. Thrombosis ini jarang terjadi dan biasanya menyerang sebagian besar pasien rumah sakit dan sebagian besar disebabkan intervensi intravena, infeksi dan keganasan.

Etiologi trombosis vena
Penyebab pasti dari trombosis vena masih belum jelas, meskipun tiga faktor yang dikenal sebagai trias virchow diyakini berperan penting dalam perkembangannya.

Trias Virchow
  1. Stasis, bisa diakibatkan oleh imobilitas, operasi lama, obesitas, gagal jantung dan trauma.
  2. Jejas endotel (cedera pada dinding pembuluh darah) bisa diakibatkan olehtrauma, kanul intralumen, inflamasi, dan infeksi .
  3. Perubahan koagulasi darah (hiperkoagulasi) bisa diakibatkan oleh polisitemia, trombositemia, leukemia, sepsis, trauma mayor, diabetes mellitus, kehamilan/pil kontrasepsi oral kombinasi, merokok dan keganasan.

Faktor risiko
  1. Usia di atas 40 tahun
  2. Imobilisasi
  3. Obesitas
  4. Keganasan
  5. Sepsis
  6. Trombofilia (misalnya defisiensi antitrombin III/protein C/protein S, Faktor V leiden, antibodi antikardiolipin)
  7. Penyakit inflamasi usus
  8. Trauma
  9. Penyakit jantung
  10. Kehamilan/estrogen

Patofisiologi trombosis vena
Trombosis vena rentan terjadi pada masa kehamilan trimester ke tiga dan periode post partum. Pada masa kehamilan terjadi perkembangan janin. Lama-kelamaan berat janin menekan vena-vena besar yang mengaliri pelvik dan ekstrimitas bawah. Plasma fibrinogen mengalami peningkatan 40% atau lebih namun waktu pembekuan tetap sama seperti masa sebelum kehamilan. Hal ini memudahkan terjadi pembekuan darah serta terjadi statis venosa menyebabkan ibu hamil mengalami thrombosis vena (Hamilton, 1995). Trombosis  vena akibat perubahan mekanisme pembekuan darah yang tidak terkontrol (Rizki, 2013).

Pada proses persalinan baik pervaginam maupun operasi sesar, plasenta akan melepaskan plasminogen ke jaringan. Plasminogen yang masuk ke sirkulasi dapat menyebabkan peningkatan koagulasi darah. Terjadi penurunan aktivitas fibrinolitik  selama kehamilan dapat menimbulkan hiperkoagulasi. Hal ini menyebabkan thrombosis vena (Geinberg at al, 1998).

Manifestasi klinis trombosis vena
  1. 50% dari semua pasien tidak menunjukkan gejala
  2. Obstruksi vena profunda dari tungkai menghasilkan edema dan pembengkakan ekstremitas
  3. Kulit pada tungkai yang terkena dapat teraba hangat; vena superfisial dapat lebih menonjol
  4. Pembengkakan bilateral mungkin sulit untuk dideteksi
  5. Nyeri tekan terjadi kemudian; terdeteksi dengan mempalpasi ringan tungkai
  6. Tanda Homan (nyeri pada betis setelah dorsofleksi tajam kaki), tidak spesifik untuk thrombosis vena profunda karena nyeri ini dapat didatangkan oleh setiap kondisi yang menyakitkan pada betis
  7. Pada beberapa kasus, tanda embolus pulmonal merupakan indikasi pertama adanya thrombosis vena profunda
  8. Thrombus (penonjolan) vena superfisial menyebabkan nyeri tekan, kemerahan, dan rasa hangat pada area yang terkena.

Trombosis vena terutama mengenai vena-vena di daerah tungkai antara lain vena tungkai superfisialis, vena dalam di daerah betis atau lebih proksimal seperti vena poplitea, vena femoralis dan viliaca. Manifestasi klinik trombosis vena dalam tidak selalu jelas, kelainan yang timbul tidak selalu dapat dipastikan secara tepat lokasi/tempat terjadinya trombosis. Gambaran klasik adalah edema tungkai unilateral, eritema, hangat, nyeri, dapat diraba pembuluh darah superfisial, dan tanda Homan yang positif (sakit di calf atau di belakang lutut saat dalam posisi dorsoflexi). Keluhan dan gejala trombosis vena berupa:
  1. Nyeri
Intensitas nyeri tidak tergantung kepada besar dan luas trombosis. Keluhan nyeri sangat bervariasi dan tidak spesifik, bisa terasa nyeri atau kaku dan intensitasnya mulai dari yang enteng sampai hebat. Nyeri akan berkurang kalau penderita istirahat di tempat tidur, terutama posisi tungkai ditinggikan.

  1. Pembengkakan
Pembengkakan disebabkan karena adanya edema. Timbulnya edema disebabkan oleh sumbatan vena di bagian proksimal dan peradangan jaringan perivaskuler.

  1. Perubahan warna kulit
Perubahan warna kulit tidak spesifik. Pada trombosis vena perubahan warna kulit di temukan hanya 17%-20% kasus. Perubahan warna kulit bisa berubah pucat dan kadang-kadang berwarna ungu.

  1. Sindroma post-trombosis.
Penyebab terjadinya sindroma ini adalah peningkatan tekanan vena sebagai konsekuensi dari adanya sumbatan dan rekanalisasi dari vena besar. Keadaan ini mengakibatkan meningkatnya tekanan pada dinding vena dalam di daerah betis sehingga terjadi imkompeten katup vena dan perforasi vena dalam (Majalah Kedokteran Andalas 2001).

WOC

WOC DPT, WOC DPT, Assuhan Keperawatan Kegawatan Kehamilan: Trombosis Vena


Pemeriksaan diagnostik trombosis vena
Pemeriksaan trombosis vena berdasarkan gejala klinis saja menjadi kurang tepat, karena banyak kasus trombosis vena yang besar tidak menimbulkan penyumbatan dan peradangan jaringan perivaskuler sehingga tidak menimbulkan keluhan dan gejala.
Ada beberapa jenis pemeriksaan yang akurat, yang dapat menegakkan diagnosis trombosis vena dalam, yaitu;
  1. Venografi
Sampai saat ini venografi masih merupakan pemeriksaan standar untuk trombosis vena. Akan tetapi teknik pemeriksaanya relatif sulit, mahal dan bisa menimbulkan nyeri dan terbentuk trombosis baru sehingga tidak menyenangkan penderitanya. Prinsip pemeriksaan ini adalah menyuntikkan zat kontras ke dalam di daerah dorsum pedis dan akan kelihatan gambaran sistem vena di betis, paha, inguinal sampai ke proksimal ke vena iliaca.

  1. Flestimografi impendans
Prinsip pemeriksaan ini adalah mengobservasi perubahan volume darah pada tungkai. Pemeriksaan ini lebih sensitif pada tombosis vena femuralis dan iliaca dibandingkan vena di betis.

  1. Ultra sonografi (USG) Doppler
Pada akhir abad ini, penggunaan USG berkembang dengan pesat, sehingga adanya trombosis vena dapat di deteksi dengan USG, terutama USG Doppler. Pemeriksaan ini memberikan hasil sensivity 60,6% dan spesifity 93,9%.

  1. Tes D-mer
Pada pemeriksaan laboratorium hemostasis didapatkan peningkatan D-Dimer dan penurunan antitrombin.Peningkatan D-Dimer merupakan indikator adanya trombosis yang aktif.Pemeriksaan ini sensitif tetapi tidak spesifik dan sebenarnya lebih berperan untuk meningkirkan adanya trombosis jika hasilnya negatif. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 93%, spesivitas 77% dan nilai prediksi negatif 8% pada TVD proksimal, sedangkan pada TVD daerah betis sensitifitasnya 70%.

Penatalaksanaan trombosis vena
Pengobatan trombosis vena diberikan pada kasus-kasus yang diagnosisnya sudah pasti dengan menggunakan pemeriksaan yang objektif, oleh karena obat-obatan yang diberikan mempunyai efek samping yang kadang-kadang serius.Berbeda dengan trombosis arteri, trombosis vena dalam adalah suatu keadaan yang jarang menimbulkan kematian.

Oleh karena itu tujuan pengobatan adalah :
1.      Mencegah meluasnya trombosis dan timbulnya emboli paru.
2.      Mengurangi morbiditas pada serangan akut.
3.      Mengurangi keluhan post flebitis
4.      Mengobati hipertensi pulmonal yang terjadi karena proses trombo emboli.

Meluasnya proses trombosis dan timbulnya emboli paru dapat dicegah dengan pemberian anti koagulan dan obat-obatan fibrinolitik. Pada pemberian obat-obatan ini di usahakan biaya serendah mungkin dan efek samping seminimal mungkin. Pemberian anti koagulan sangat efektif untuk mencegah terjadinya emboli paru, obat yang biasa di pakai adalah heparin.Prinsip pemberian anti koagulan adalah aman dan efektif. Aman artinya anti koagulan tidak menyebabkan perdarahan. Efektif artinya dapat menghancurkan trombus dan mencegah timbulnya trombus baru dan emboli.Pada pemberian heparin perlu di pantau waktu trombo plastin parsial atau di daerah yang fasilitasnya terbatas, sekurang-kurangnya waktu pembekuan.
                  Penatalaksanaan:
  1. Pemberian Heparin standar
Heparin 5000 ini bolus (80 iu/KgBB), bolus dilanjutkan dengan drips konsitnus 1000 – 1400 iu/jam (18 iu/KgBB), drips selanjutnya tergantung hasil APTT. 6 jam kemudian di periksa APTT untuk menentukan dosis dengan target 1,5 – 2,5 kontrol.
  1. Bila APTT 1,5 – 2,5 x kontrol dosis tetap.
  2. Bila APTT < 1,5 x kontrol dosis dinaikkan 100 – 150 iu/jam.
  3. Bila APTT > 2,5 x kontrol dosis diturunkan 100 iu/jam.

Penyesuaian dosis untuk mencapai target dilakukan pada hari ke 1 tiap 6 jam, hari ke 2 tiap 2 - 4 jam. Hal ini di lakukan karena biasanya pada 6 jam pertama hanya 38% yang mencapai nilai target dan sesudah dari ke 1 baru 84%.Heparin dapat diberikan 7–10 hari yang kemudian dilanjutkan dengan  pemberian heparin dosis rendah yaitu 5000 iu/subkutan, 2 kali sehari atau pemberian anti koagulan oral, selama minimal 3 bulan.Pemberian anti koagulan oral harus diberikan 48 jam sebelum rencana penghentian heparin karena anti koagulan orang efektif sesudah 48 jam.

  1. Pemberian Low Milecular Weight Heparin (LMWH)
Pemberian obat ini lebih di sukai dari heparin karena tidak memerlukan pemantauan yang ketat, sayangnya harganya relatif mahal dibandingkan heparin.Saat ini preparat yang tersedia di Indonesia adalah Enoxaparin (Lovenox) dan (Nandroparin Fraxiparin).Pada pemberian heparin standar maupun LMWH bisa terjadi efek samping yang cukup serius yaitu Heparin Induced Thormbocytopenia (HIT).

  1. Pemberian Oral Anti koagulan oral
Obat yang biasa di pakai adalah Warfarin. Cara pemberian Warfarin di mulai dengan dosis 6 – 8 mg  (single dose) pada malam hari. Dosis dapat dinaikan atau di kurangi tergantung dari hasil INR (International Normolized Ratio). Target INR : adalah 2,0 – 3,0.

Komplikasi trombosis vena
Ada beberapa komplikasi dari trombosis vena antara lain:
  1. Perdarahan
                        Perdarahan diakibatkan oleh penggunaan terapi antikoagulan.

  1. Emboli paru
Terjadi akibat terlepasnya trombus dari dinding pembuluh darah kemudian trombus ini terbawa aliran darah hingga akhirnya berhenti di pembuluh darah paru dan mengakibatkan bendungan aliran darah. Ini dapat terjadi beberapa jam maupun hari setelah terbentuknya suatu bekuan darah pada pembuluh darah di daerah tungkai. Gejalanya berupa nyeri dada dan pernapasan yang singkat.

  1. Sindrom post trombotik
Terjadi akibat kerusakan katup pada vena sehingga seharusnya darah mengalir keatas yang dibawa oleh vena menjadi terkumpul pada tungkai bawah. Ini mengakibatkan nyeri, pembengkakan dan ulkus pada kaki.


Prognosis trombosis vena
Semua pasien dengan trombosis vena dalam pada masa yang lama mempunyai resiko terjadinya insufisiensi vena kronik. Kira-kira 20% pasien dengan DVT yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi emboli paru, dan 10-20% dapat menyebabkan kematian.


  1. Asuhan Keperawatan Trombosis Vena
  1. Pengkajian
  1. Identitas
Terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, diagnosa medis, agama, suku bangsa pasien dan keluarga penanggungjawabnya.

  1. Riwayat Kesehatan
  1. KeluhanUtama :
        Keluhan klien saat pengkajian adalah
  1. Tungkai eritema, edema atau teraba seperti tali
  2. Homan’s sign : nyeri pada dorsopleksi pasif kaki

  1. Riwayat penyakit sekarang :
Pengumpulan data dilakukan untuk menentukan penyebab thrombosis vena. Nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan dalam klien.  Misalnya dari riwayat: pasca operasi besar beberapa minggu sebelumnya, imobilisasi selama > 3 hari.

  1. Riwayat penyakit dahulu :
Pada pengkajian ini, perawat dapat menentukan kemungkinan penyebab DVT adalah imobilisasi yang lama atau pernah DVT sebelumnya.

  1. Riwayat penyakit keluarga: tidak ditemukan riwayat penyakit keluarga.
  2. Riwayat Psikososial Spiritual
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari - hari, baik dalam keluarganya maupun dalam masyarakat.

  1. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik tanda – tanda klasik seperti edema kaki unilateral, eritema, hangat, nyeri, pembuluh darah superficial teraba, dan Homan’s sign positif yaitu nyeri pada daerah betis setelah dilakukan dorso fleksi pada kaki, tidak selalu ditemukan.

Bila thrombosis terjadi akibat thrombus vena superficial maka akan didapatkan data :
  1. Nyeri
  2. Tenderness
  3. Redness
  4. Teraba hangat pada daerah yang terkena

Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan D-dimer dan penurunan antithrombin (AT). Peningkatan D-dimer merupakan indicator adanya thrombosis aktif. Pemeriksaan laboratorium lain umumnya tidak terlalu bermakna untuk mendiagnosis adanya DVT, tetapi membantu menentukan factor resiko.

  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Penurunan cardiak output berhubungan dengan penurunan penurunan sirkulasi
  2. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena
  3. Resiko injury (perdarahan) berhubungan dengan pemberian antikoagulan

  1. Intervensi Keperawatan
    1. Penurunan cardiak output berhubungan dengan penurunan penurunan sirkulasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam, cardiak output klien kembali dalam nilai normal.
NOC
NIC
Circulation status
a. Tekanan darah
b. Kekuatan denyut kaki kanan
c. Kekuatan denyut kaki kiri
d. Pengisian kapiler
e. Edema perifer
f. Pucat
g. Penurunan rubor
h. Penurunan temperature tubuh
Circulatory Care: Venous Insufficiency
1. Tunjukkan tanda komphensif dari sirkulasi perifer (cek nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna dan suhu)
2. Monitor ttv terutama peningkatan denyut nadi diikuti penurunan tekanan darah
3. Observasi tanda gejala perdarahan dari mulut dan rectum, karena perdarahan merupakan komplikasi yang serius pada pasien dengan terapi trombolitik
4. kolaborasikan dengan pemberian asam amino kaproic untuk menghentikan perdarahan
5. cek secara ketat perdarahan aktif selama 24 jam setelah terapi trombolitik dihentikan, 1 jam pertama 15 menit sekali, 8 jam berikutnya tiap 30 menit dan selanjutnya tiap jam
6. Observasi tanda reaksi alergi terhadap streptokinase seperti gatal, demam, sesak napas, bronkospasme, hipertensi
7. Hindari pemberian aspirin atau obat-obat yang bersifat hemolitik selama pemberian trombolik
8. Monitor EKG untuk mendeteksi adanya reperfusi disritmia akibat pemberian trombolitik dan kemungkunan diberikannya anti disritmia

  1. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena
NOC
NIC
Pain control (1605)
Indikator keberhasilan :
  1. Melaporkan perubahan gejala nyeri kepada petugas kesehatan
  2. Melaporkan gejala tidak terkontrol
  3. Menggunakan terapi non-analgesik yang mengurangi nyeri
  4. Menggunakan terapi analgesic sesuai rekomendasi yang diberikan
  5. Melaporkan bahwa nyeri mampu dikontrol
Pain Management (1400)
  1. Kurangi faktor presipitasi
  2. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi dan non farmakologi)
  3. Bantu klien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
  4. Evaluasi bersama klien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
  5. Kolaborasikan dengan dokter bila keluhan dari tindakan nyeri tidak berhasil
Analgetic Administration (2210)
  1. Cek riwayat alergi
  2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
  3. Tentukan pilihan analgetik sesuai tipe dan beratnya nyeri
  4. Tentukanan algesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
  5. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik pertama kali
  6. Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping pemberian.

  1. Resiko injury (perdarahan) berhubungan dengan pemberian antikoagulan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam, tidak terjadi perdarahan pada klien
NOC
NIC
Blood Loss Severity
a. Penurunan Hb
b. Penurunan hematocrit (Hct)

Thrombolytic Therapy Management
1.    Monitor tanda vital untuk peningkatan nadi diikuti peningkatan tekanan sistolik karena menurunnya volume darah, akibat perdarahan internal dan eksternal.
2.    Cek Protrombin time pada pemberian warfarin dan PTT untuk pemberian heparin sebelum pemberian anticoagulan. Protombin time seharusnya 1,25 s/d 2,4. Jumlah platelet harus dimonitor sebab pemberian anti coagulan dapat menurunkan jumlah platelet.
3.    Cek  perdarahan dari mulut, hidung ( epistaksis), urine ( hematuria), kulit(petechie, purpura)
4.    Cek stool ( feses ) untuk mengetahui adanya perdarahan di intestinal.
5.    Khusus untuk pasien usila yang mendapat wafarin monitor harus lebih ketat, sebab kulit sangat tipis dan pembuluh darah sangat rapuh. Pemeriksaan PT harus lebih teratur.
6.    Harus selalu ada persediaan antagonis anticoagulan( protamine, vitamin K1 atau vitamin K3)  sewaktu dosis obat maningkat atau pada kondisi terjadinya perdarahan meningkat. Disamping itu persediaan plasma mungkin diperlukan untuk antisipasi diperlukannya transfusi.
7.    Ingatkan pada pasien untuk memberitahu dokter giginya bila memerlukan kontrol terhadap gigi bahwa pasien sedang dalam pengobatan anti coagulan.
8.    Anjurkan pasien untuk menggunakan sikat gigi yang lembut untuk mencegah terjadinya perdarahan gusi.
9.    Anjurkan pasien (pria) untuk menggunakan alat cukur elektrik saat bercukur.
10.  Anjurkan pasien untuk selalu membawa kartu identitas sebagai pasien yang sedang dalam terapi anti coagulant.
11.  Anjurkan pasien untuk tidak merokok, karena merokok dapat meningkatkan metabolisme, selanjutnya dosis warfarin mungkin perlu ditingkatkan bila saat itu pasien masih aktif merokok.
12.  Ingatkan pasien untuk tidak menggunakan aspirin, gunakan obat analgesik yang mengandung asetaminofen.
13.  Ajarkan pada pasien untuk mengontrol perdarahan eksternal dengan cara penbekuan langsung pada daerah luka selama 5-10 menit dengan kasa bersih atau sterill.
14.  Anjurkan pada pasien untuk tidak mengkonsumsi alkohol yang dapat meningkatkan terjadinya perdarahan. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi sayuran hijau, ikan, hati, kopi atau teh yamg kaya akan vitamin K.
15.  Jelaskan pada pasien untuk melaporkan perdarahan seperti : ptechie, echymosis, purpura, perdarah gusi, melena.

Kasus Trombosis Vena
Ny. X 33 tahun, usia kehamilan 8 bulan, datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dibagian tungkai kaki. Saat dilakukan pemeriksaan fisik, terlihat tonjolan-tonjolan vena di bagian tungkai, warna kemerahan, dan ketika diposisikan dorsofleksi Ny. X mengeluh sangat nyeri. Homan’s test (+). Tekanan darah 90/60 mmHg,suhu 380C ,berat badan 75kg, tinggi 152cm , sianosis dan akral teraba dingin. Tampak adanya edeme di tungkai.

Pengkajian

Anamnesa
  1. Identitas Pasien
Nama        : Ny. X                                    Usia Kehamilan: 32/33 minggu (8 bulan)
Usia          : 33 tahun                    Jenis kelamin: Perempuan      
BB/TB      : 75kg/152cm

  1. Keluhan Utama
Pasien akan mengeluhkan nyeri di bagian tungkai, edema.

  1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien tampak pucat dan terjadi perubahan pada membran mukosa, tekanan darah mengalami penurunan

  1. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada riwayat penyakit masa lalu

  1. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ditemukan riwayat penyakit keluarga

  1. Pola aktivitas sehari-hari
Pasien jarang berolah raga

Pemeriksaan Fisik
  1. Primary Survey
  1. Airway
Tidak ada sumbatan jalan napas pasien

  1. Breathing
Pernapasan normal, tidak ditemukan sesak napas.

  1. Circulation
  1. Hipotensi
  2. Sianosis perifer

  1. Disability
Alert: Pasien dalam kondisi sadar
Verbal: Pasien merespon saat ditanya
Pain: Pasien berespon saat nyeri
Unresponsive: -

  1. Exposure
Pasien mengalami kenaikan suhu akibat respon inflamasi sebesar 380C.

  1. Secondary Survey
B1 (breathing) : -
B2 (blood)       : Sianosis perifer, tekanan darah turun (hipotensi). Peningkatan pendarahan vagina dan tempat yang mengalami trauma pada saat melahirkan.
B3 (brain)        : kompos mentis
B4 (bladder)    : -
B5 (bowel)      : -
B6 (bone)        : homan’s test (+)

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena
    2. Perdarahan berhubungan dengan pemberian antikoagulan

  1. Intervensi Keperawatan
  1. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena

NOC
NIC
Pain control (1605)
Indikator keberhasilan :
  1. Melaporkan perubahan gejala nyeri kepada petugas kesehatan
  2. Melaporkan gejala tidak terkontrol
  3. Menggunakan terapi non-analgesik yang mengurangi nyeri
  4. Menggunakan terapi analgesic sesuai rekomendasi yang diberikan
  5. Melaporkan bahwa nyeri mampu dikontrol
Pain Management (1400)
  1. Kurangi faktor presipitasi
  2. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi dan non farmakologi)
  3. Bantu klien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
  4. Evaluasi bersama klien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
  5. Kolaborasikan dengan dokter bila keluhan dari tindakan nyeri tidak berhasil
Analgetic Administration (2210)
  1. Cek riwayat alergi
  2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
  3. Tentukan pilihan analgetik sesuai tipe dan beratnya nyeri
  4. Tentukanan algesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
  5. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik pertama kali
  6. Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping pemberian.

  1. Perdarahan berhubungan dengan pemberian antikoagulan
NOC
NIC
Blood Loss Severity
a. Penurunan Hb
b. Penurunan hematocrit (Hct)

Thrombolytic Therapy Management
1.    Monitor tanda vital untuk peningkatan nadi diikuti peningkatan tekanan sistolik karena menurunnya volume darah, akibat perdarahan internal dan eksternal.
2.    Cek Protrombin time pada pemberian warfarin dan PTT untuk pemberian heparin sebelum pemberian anticoagulan. Protombin time seharusnya 1,25 s/d 2,4. Jumlah platelet harus dimonitor sebab pemberian anti coagulan dapat menurunkan jumlah platelet.
3.    Cek  perdarahan dari mulut, hidung ( epistaksis), urine ( hematuria), kulit(petechie, purpura)
4.    Cek stool ( feses ) untuk mengetahui adanya perdarahan di intestinal.
5.    Khusus untuk pasien usila yang mendapat wafarin monitor harus lebih ketat, sebab kulit sangat tipis dan pembuluh darah sangat rapuh. Pemeriksaan PT harus lebih teratur.
6.    Harus selalu ada persediaan antagonis anticoagulan( protamine, vitamin K1 atau vitamin K3)  sewaktu dosis obat maningkat atau pada kondisi terjadinya perdarahan meningkat. Disamping itu persediaan plasma mungkin diperlukan untuk antisipasi diperlukannya transfusi.
7.    Ingatkan pada pasien untuk memberitahu dokter giginya bila memerlukan kontrol terhadap gigi bahwa pasien sedang dalam pengobatan anti coagulan.
8.    Anjurkan pasien untuk menggunakan sikat gigi yang lembut untuk mencegah terjadinya perdarahan gusi.
9.    Anjurkan pasien (pria) untuk menggunakan alat cukur elektrik saat bercukur.
10.  Anjurkan pasien untuk selalu membawa kartu identitas sebagai pasien yang sedang dalam terapi anti coagulant.
11.  Anjurkan pasien untuk tidak merokok, karena merokok dapat meningkatkan metabolisme, selanjutnya dosis warfarin mungkin perlu ditingkatkan bila saat itu pasien masih aktif merokok.
12.  Ingatkan pasien untuk tidak menggunakan aspirin, gunakan obat analgesik yang mengandung asetaminofen.
13.  Ajarkan pada pasien untuk mengontrol perdarahan eksternal dengan cara penbekuan langsung pada daerah luka selama 5-10 menit dengan kasa bersih atau sterill.
14.  Anjurkan pada pasien untuk tidak mengkonsumsi alkohol yang dapat meningkatkan terjadinya perdarahan. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi sayuran hijau, ikan, hati, kopi atau teh yamg kaya akan vitamin K.
15.  Jelaskan pada pasien untuk melaporkan perdarahan seperti : ptechie, echymosis, purpura, perdarah gusi, melena.

Daftar Pustaka
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah: Buku Saku dari Brunner & Suddarth. Hal. 184. Jakarta: EGC.
Bulechek, Gloria M. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) 6th ed. Missouri: Elsevier Inc.
Corwin Elizabeh.J.2009 Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 9 Alih bahasa Tim penerbit PSIK UNPAD, Jakarta: EGC.
Damayanti. Ika Putri. 2014. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Komperehensif pada Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Deepublish
Dino W. Ramzi, M.D., C.M., And Kenneth V. Leeper, M.D. 2004. DVT and PPart II. Treatment and Prevention. American Academy of Family.
Geinberg at al. 1998. Critical Decisions in Thrombosis and Hemostatis. London: B. C Decker Inc
Grace, Pierce A. dan Borley, Neil R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Ed. 3. Hal. 156-157. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hamilton, Persis Mary. 1995. Dasar-dasar keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
http://healthosphere.com/thrombosis/#venous-thrombosis, diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
Jack Hirsh, MD; John Hoak, MD. Management of Deep Vein Thrombosis and        Pulmonary Embolism . A Statement for Healthcare Professionals From the         Council on Thrombosis (in Consultation With the Council on         Cardiovascular Radiology), American Heart Association
Jodi B. Segal. Et al. Diagnosis and Treatment of Deep Venous Thrombosis and      Pulmonary Embolism. AHRQ Publication No. 03-E016 March 2003
Klossner, NJ & Hatfield, NT 2010, ‘Introductory Maternity & Pediatric Nursing, 2nd Edition’, Lippicontt Williams & Wilkins, Philadelphia.
Majalah Kedokteran Andalas No.2. Vol.25.  Juli – Desember  2001.
Manuaba, Ida B G. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
Manuaba, Ida., Ayu C., dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida B G. 2010. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obsetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC.
Moorhead, Sue. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC): Measurement of Health Outcomes 5th ed. Missouri: Elsevier Inc
Morton, PG & Fontaine, DK 2009, ‘Critical Care Nursing: A Holistic Approach, 9th Edition’, Lippicontt Williams & Wilkins, Philadelphia.
Prawirohardio, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardio, Sarwono. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka.
Rizki, Deri. 2013. Kupas tuntas seputar kehamilan. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Rohen, Johanes W.. 2009. Embriologi Fungsional: Perkembangan sistem fungsi organ manusia. Jakarta : EGC
Somantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.






TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Fisiologi Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta/ari) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau pun bisa melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba 2010).

Proses terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kontraksi (his). Tersapat dua hormon yang dominan saat wanita dalam kondisi hamil, hormon tersebut antara lain adalah:

Hormon
Fungsi
Esterogen
1.     Meningkatkan sensitivitas otot rahim
2.     Memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis
Progesteron
1.    Menurunkan sensitivitas otot rahim
2.    Menyulitkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, rangsangan mekanis
3.    Menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi.

Adapun gejala persalinan antara lain sebagai berikut:
  1. Adanya kontraksi atau his yang semakin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek
  2. Keluarnyalendir bercampur darah
  3. Dapat disertai amnion pecah
  4. Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks:
1)   Perlunakan serviks
2)   Pendataran serviks
3)   Terjadi pembukaan serviks

Faktor-faktor yang penting dalam persalinan adalah sebagai berikut:
1.    Power
1)   HIS (kontraksi otot rahim)
2)   Kontraksi otot dinding perut
3)   Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan
4)   Ketegangan dan kontraksi ligamentum retundum

2.    Passanger (janin dan plasenta)
3.    Passageways (jalan lahir)
4.    Psycho (psikologis)
5.    Provider (tenaga kesehatan terampil dan non tenaga kesehatan)

Janin terletak dalam kantong amnion yang dilapisi oleh amnion pada bagian dalam dan chorion pada bagian luar. Bersamaan dengan diferensiasi jonjot korion yang menjadi plasenta padadaerah basal selaput lendir ibu (Chorion frondosum),  rongga amnion yang awalnya berupa gelembung kecil pada daerah embrioblas membesar dengan embrio yang berkembang di dalamnya sehingga bagian toproblas yang mengarah ke rongga rahim dan selaput lendir ibu (desidua capsularis) sedikit-demi sedikit bersamaan tertekan dan berdegenerasi (Rohen 2009).

Pada akhirnya desidua kapsularis bersama dengan desidua parietalis menyatu dan lumen uterus akan menghilang sehingga terbentuklah amnion beserta cairan amnionnya. Amnion beserta cairan amnion ini memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
  1. Proteksi         : Pelindung janin terhadap trauma ekterna;
  2. Mobilisasi      : Memungkinkan ruang gerak bagi janin;
  3. Homeostatis : Menjaga keseimbangan suhu dan keseimbangan asa basa dalam rongga amnion;
  4.  Mekanik        : Menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh intra uterin;
  5. In partu         : Membersihkan atau melicinkan jalan lahir dengan cairan steril sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir (Yulaikha 2006).

Pada saat kelahiran, akan terjadi robekan amnion (ruptur amnion), air amnion akan mengalir keluar dan anak terdorong keluar dari jalan lahir. Seringkali amnion pecah mendekati akhir kala dua, akan tetapi pecahnya amnion juga dapat terjadi setiap saat sebelum atau selama persalinan (Rohen 2009).
Assuhan Keperawatan Kegawatan Kehamilan: Trombosis Vena
KEHAMILAN



Gambar 2.1 Perkembangan rongga amnion dan amnion pada proses embriogenesis

2.2  Trombosis Vena
Definisi trombosis vena
Trombosis adalah terjadinya bekuan darah di dalam sistem kardiovaskuler termasuk arteri, vena, ruangan jantung dan mikrosirkulasi (Tambunan 2001). Trombosis vena merupakan pembentukan gumpalan darah terkonsentrasi di vena dan komplikasi dari thrombosis vena ini adalah emboli paru yang dapat mengancam kehidupan. Thrombosis vena dapat terjadi karena adanya tromboflebitis. Tromboflebitis adalah inflamasi dinding vena, sering disertai dengan pembentukan bekuan. Ketika bekuan pertama kali terjadi dalam vena sebagai akibat stasis atau hiperkoagulanilitas, tetapi tanpa inflamasi, proses ini disebut sebagai flebotrombosis. Thrombosis vena dapat terjadi dimana saja pada vena tetapi yang paling sering adalah vena pada ektermitas bawah. Baik vena superfisial atau vena profunda dari tungkai dapat terkena. Bahaya yang berkaitan dengan thrombosis vena adalah dimana bagian bekuan dapat terlepas dan menyebabkan sumbatan embolik pada pembuluh darah pulmonal. Trombosis vena dalam (deep vein thrombosis, DVT) merupakan kondisi di mana darah pada vena-vena profundus pada tungkai atau pelvis membeku. Emboli dari thrombus menimbulkan emboli paru (pulmonary embolus, PE). Sementara kerusakan vena lokal dapat menyebabkan hipertensi vena kronis dan ekstermitas pascafeblitis (postpheblitic limb, PPL).

Klasifikasi trombosis vena
Ada berbagai jenis trombosis diklasifikasikan dalam trombosis vena dan ini adalah:
  1. Deep Vein Trombosis (DVT)
Penggumpalan darah jenis ini terbentuk dari jaringan di dalam vena dan umumnya mempengaruhi vena ekstermitas bawah. Penggumpalan terjadi dalam pembuluh darah dan tidak dapat dilihat melalui kulit. Hal ini terjadi terutama di betis kecuali selama kehamilan maka bekuan biasanya terletak dalam panggul dan paha.
DVT, Assuhan Keperawatan Kegawatan Kehamilan: Trombosis Vena

  1. Portal Vein Trombosis (PVT)
Jenis trombosis mempengaruhi pembuluh darah portal yang dapat menyebabkan hipertensi portal sehingga menghasilkan penurunan aliran darah ke hati. Hal ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pada splen. Penyebab trombosis adalah karena kanker di hati, pankreas dan perut serta abses hati. Infeksi pusar adalah penyebab umum dari trombosis vena portal pada bayi baru lahir.

  1. Renal Vein Trombosis (RVT)
Hal ini terjadi terutama pada pasien dengan sindrom nefritik. Pembentukan bekuan dalam jenis ini merupakan trombosis di vena yang mengalirkan darah di ginjal.

  1. Cerebral Venous Sinus Trombosis (CVST).
Bentuk thrombosis yang parah dan jarang terjadi pada anak-anak dan usia dewasa muda. Thrombosis ini paling sering terjadi pada perempuan. Penyebabnya sulit ditentukan dan trombosis ini diyakini menjadi penyebab umum dari stroke.

  1. Jugular Vein Trombosis (JVT).
Suatu bentuk trombosis di jugularis internal atau eksternal. Thrombosis ini jarang terjadi dan biasanya menyerang sebagian besar pasien rumah sakit dan sebagian besar disebabkan intervensi intravena, infeksi dan keganasan.

Etiologi trombosis vena
Penyebab pasti dari trombosis vena masih belum jelas, meskipun tiga faktor yang dikenal sebagai trias virchow diyakini berperan penting dalam perkembangannya.

Trias Virchow
  1. Stasis, bisa diakibatkan oleh imobilitas, operasi lama, obesitas, gagal jantung dan trauma.
  2. Jejas endotel (cedera pada dinding pembuluh darah) bisa diakibatkan olehtrauma, kanul intralumen, inflamasi, dan infeksi .
  3. Perubahan koagulasi darah (hiperkoagulasi) bisa diakibatkan oleh polisitemia, trombositemia, leukemia, sepsis, trauma mayor, diabetes mellitus, kehamilan/pil kontrasepsi oral kombinasi, merokok dan keganasan.

Faktor risiko
  1. Usia di atas 40 tahun
  2. Imobilisasi
  3. Obesitas
  4. Keganasan
  5. Sepsis
  6. Trombofilia (misalnya defisiensi antitrombin III/protein C/protein S, Faktor V leiden, antibodi antikardiolipin)
  7. Penyakit inflamasi usus
  8. Trauma
  9. Penyakit jantung
  10. Kehamilan/estrogen

Patofisiologi trombosis vena
Trombosis vena rentan terjadi pada masa kehamilan trimester ke tiga dan periode post partum. Pada masa kehamilan terjadi perkembangan janin. Lama-kelamaan berat janin menekan vena-vena besar yang mengaliri pelvik dan ekstrimitas bawah. Plasma fibrinogen mengalami peningkatan 40% atau lebih namun waktu pembekuan tetap sama seperti masa sebelum kehamilan. Hal ini memudahkan terjadi pembekuan darah serta terjadi statis venosa menyebabkan ibu hamil mengalami thrombosis vena (Hamilton, 1995). Trombosis  vena akibat perubahan mekanisme pembekuan darah yang tidak terkontrol (Rizki, 2013).

Pada proses persalinan baik pervaginam maupun operasi sesar, plasenta akan melepaskan plasminogen ke jaringan. Plasminogen yang masuk ke sirkulasi dapat menyebabkan peningkatan koagulasi darah. Terjadi penurunan aktivitas fibrinolitik  selama kehamilan dapat menimbulkan hiperkoagulasi. Hal ini menyebabkan thrombosis vena (Geinberg at al, 1998).

Manifestasi klinis trombosis vena
  1. 50% dari semua pasien tidak menunjukkan gejala
  2. Obstruksi vena profunda dari tungkai menghasilkan edema dan pembengkakan ekstremitas
  3. Kulit pada tungkai yang terkena dapat teraba hangat; vena superfisial dapat lebih menonjol
  4. Pembengkakan bilateral mungkin sulit untuk dideteksi
  5. Nyeri tekan terjadi kemudian; terdeteksi dengan mempalpasi ringan tungkai
  6. Tanda Homan (nyeri pada betis setelah dorsofleksi tajam kaki), tidak spesifik untuk thrombosis vena profunda karena nyeri ini dapat didatangkan oleh setiap kondisi yang menyakitkan pada betis
  7. Pada beberapa kasus, tanda embolus pulmonal merupakan indikasi pertama adanya thrombosis vena profunda
  8. Thrombus (penonjolan) vena superfisial menyebabkan nyeri tekan, kemerahan, dan rasa hangat pada area yang terkena.

Trombosis vena terutama mengenai vena-vena di daerah tungkai antara lain vena tungkai superfisialis, vena dalam di daerah betis atau lebih proksimal seperti vena poplitea, vena femoralis dan viliaca. Manifestasi klinik trombosis vena dalam tidak selalu jelas, kelainan yang timbul tidak selalu dapat dipastikan secara tepat lokasi/tempat terjadinya trombosis. Gambaran klasik adalah edema tungkai unilateral, eritema, hangat, nyeri, dapat diraba pembuluh darah superfisial, dan tanda Homan yang positif (sakit di calf atau di belakang lutut saat dalam posisi dorsoflexi). Keluhan dan gejala trombosis vena berupa:
  1. Nyeri
Intensitas nyeri tidak tergantung kepada besar dan luas trombosis. Keluhan nyeri sangat bervariasi dan tidak spesifik, bisa terasa nyeri atau kaku dan intensitasnya mulai dari yang enteng sampai hebat. Nyeri akan berkurang kalau penderita istirahat di tempat tidur, terutama posisi tungkai ditinggikan.

  1. Pembengkakan
Pembengkakan disebabkan karena adanya edema. Timbulnya edema disebabkan oleh sumbatan vena di bagian proksimal dan peradangan jaringan perivaskuler.

  1. Perubahan warna kulit
Perubahan warna kulit tidak spesifik. Pada trombosis vena perubahan warna kulit di temukan hanya 17%-20% kasus. Perubahan warna kulit bisa berubah pucat dan kadang-kadang berwarna ungu.

  1. Sindroma post-trombosis.
Penyebab terjadinya sindroma ini adalah peningkatan tekanan vena sebagai konsekuensi dari adanya sumbatan dan rekanalisasi dari vena besar. Keadaan ini mengakibatkan meningkatnya tekanan pada dinding vena dalam di daerah betis sehingga terjadi imkompeten katup vena dan perforasi vena dalam (Majalah Kedokteran Andalas 2001).

WOC

WOC DPT, WOC DPT, Assuhan Keperawatan Kegawatan Kehamilan: Trombosis Vena


Pemeriksaan diagnostik trombosis vena
Pemeriksaan trombosis vena berdasarkan gejala klinis saja menjadi kurang tepat, karena banyak kasus trombosis vena yang besar tidak menimbulkan penyumbatan dan peradangan jaringan perivaskuler sehingga tidak menimbulkan keluhan dan gejala.
Ada beberapa jenis pemeriksaan yang akurat, yang dapat menegakkan diagnosis trombosis vena dalam, yaitu;
  1. Venografi
Sampai saat ini venografi masih merupakan pemeriksaan standar untuk trombosis vena. Akan tetapi teknik pemeriksaanya relatif sulit, mahal dan bisa menimbulkan nyeri dan terbentuk trombosis baru sehingga tidak menyenangkan penderitanya. Prinsip pemeriksaan ini adalah menyuntikkan zat kontras ke dalam di daerah dorsum pedis dan akan kelihatan gambaran sistem vena di betis, paha, inguinal sampai ke proksimal ke vena iliaca.

  1. Flestimografi impendans
Prinsip pemeriksaan ini adalah mengobservasi perubahan volume darah pada tungkai. Pemeriksaan ini lebih sensitif pada tombosis vena femuralis dan iliaca dibandingkan vena di betis.

  1. Ultra sonografi (USG) Doppler
Pada akhir abad ini, penggunaan USG berkembang dengan pesat, sehingga adanya trombosis vena dapat di deteksi dengan USG, terutama USG Doppler. Pemeriksaan ini memberikan hasil sensivity 60,6% dan spesifity 93,9%.

  1. Tes D-mer
Pada pemeriksaan laboratorium hemostasis didapatkan peningkatan D-Dimer dan penurunan antitrombin.Peningkatan D-Dimer merupakan indikator adanya trombosis yang aktif.Pemeriksaan ini sensitif tetapi tidak spesifik dan sebenarnya lebih berperan untuk meningkirkan adanya trombosis jika hasilnya negatif. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 93%, spesivitas 77% dan nilai prediksi negatif 8% pada TVD proksimal, sedangkan pada TVD daerah betis sensitifitasnya 70%.

Penatalaksanaan trombosis vena
Pengobatan trombosis vena diberikan pada kasus-kasus yang diagnosisnya sudah pasti dengan menggunakan pemeriksaan yang objektif, oleh karena obat-obatan yang diberikan mempunyai efek samping yang kadang-kadang serius.Berbeda dengan trombosis arteri, trombosis vena dalam adalah suatu keadaan yang jarang menimbulkan kematian.

Oleh karena itu tujuan pengobatan adalah :
1.      Mencegah meluasnya trombosis dan timbulnya emboli paru.
2.      Mengurangi morbiditas pada serangan akut.
3.      Mengurangi keluhan post flebitis
4.      Mengobati hipertensi pulmonal yang terjadi karena proses trombo emboli.

Meluasnya proses trombosis dan timbulnya emboli paru dapat dicegah dengan pemberian anti koagulan dan obat-obatan fibrinolitik. Pada pemberian obat-obatan ini di usahakan biaya serendah mungkin dan efek samping seminimal mungkin. Pemberian anti koagulan sangat efektif untuk mencegah terjadinya emboli paru, obat yang biasa di pakai adalah heparin.Prinsip pemberian anti koagulan adalah aman dan efektif. Aman artinya anti koagulan tidak menyebabkan perdarahan. Efektif artinya dapat menghancurkan trombus dan mencegah timbulnya trombus baru dan emboli.Pada pemberian heparin perlu di pantau waktu trombo plastin parsial atau di daerah yang fasilitasnya terbatas, sekurang-kurangnya waktu pembekuan.
                  Penatalaksanaan:
  1. Pemberian Heparin standar
Heparin 5000 ini bolus (80 iu/KgBB), bolus dilanjutkan dengan drips konsitnus 1000 – 1400 iu/jam (18 iu/KgBB), drips selanjutnya tergantung hasil APTT. 6 jam kemudian di periksa APTT untuk menentukan dosis dengan target 1,5 – 2,5 kontrol.
  1. Bila APTT 1,5 – 2,5 x kontrol dosis tetap.
  2. Bila APTT < 1,5 x kontrol dosis dinaikkan 100 – 150 iu/jam.
  3. Bila APTT > 2,5 x kontrol dosis diturunkan 100 iu/jam.

Penyesuaian dosis untuk mencapai target dilakukan pada hari ke 1 tiap 6 jam, hari ke 2 tiap 2 - 4 jam. Hal ini di lakukan karena biasanya pada 6 jam pertama hanya 38% yang mencapai nilai target dan sesudah dari ke 1 baru 84%.Heparin dapat diberikan 7–10 hari yang kemudian dilanjutkan dengan  pemberian heparin dosis rendah yaitu 5000 iu/subkutan, 2 kali sehari atau pemberian anti koagulan oral, selama minimal 3 bulan.Pemberian anti koagulan oral harus diberikan 48 jam sebelum rencana penghentian heparin karena anti koagulan orang efektif sesudah 48 jam.

  1. Pemberian Low Milecular Weight Heparin (LMWH)
Pemberian obat ini lebih di sukai dari heparin karena tidak memerlukan pemantauan yang ketat, sayangnya harganya relatif mahal dibandingkan heparin.Saat ini preparat yang tersedia di Indonesia adalah Enoxaparin (Lovenox) dan (Nandroparin Fraxiparin).Pada pemberian heparin standar maupun LMWH bisa terjadi efek samping yang cukup serius yaitu Heparin Induced Thormbocytopenia (HIT).

  1. Pemberian Oral Anti koagulan oral
Obat yang biasa di pakai adalah Warfarin. Cara pemberian Warfarin di mulai dengan dosis 6 – 8 mg  (single dose) pada malam hari. Dosis dapat dinaikan atau di kurangi tergantung dari hasil INR (International Normolized Ratio). Target INR : adalah 2,0 – 3,0.

Komplikasi trombosis vena
Ada beberapa komplikasi dari trombosis vena antara lain:
  1. Perdarahan
                        Perdarahan diakibatkan oleh penggunaan terapi antikoagulan.

  1. Emboli paru
Terjadi akibat terlepasnya trombus dari dinding pembuluh darah kemudian trombus ini terbawa aliran darah hingga akhirnya berhenti di pembuluh darah paru dan mengakibatkan bendungan aliran darah. Ini dapat terjadi beberapa jam maupun hari setelah terbentuknya suatu bekuan darah pada pembuluh darah di daerah tungkai. Gejalanya berupa nyeri dada dan pernapasan yang singkat.

  1. Sindrom post trombotik
Terjadi akibat kerusakan katup pada vena sehingga seharusnya darah mengalir keatas yang dibawa oleh vena menjadi terkumpul pada tungkai bawah. Ini mengakibatkan nyeri, pembengkakan dan ulkus pada kaki.


Prognosis trombosis vena
Semua pasien dengan trombosis vena dalam pada masa yang lama mempunyai resiko terjadinya insufisiensi vena kronik. Kira-kira 20% pasien dengan DVT yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi emboli paru, dan 10-20% dapat menyebabkan kematian.


  1. Asuhan Keperawatan Trombosis Vena
  1. Pengkajian
  1. Identitas
Terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan, diagnosa medis, agama, suku bangsa pasien dan keluarga penanggungjawabnya.

  1. Riwayat Kesehatan
  1. KeluhanUtama :
        Keluhan klien saat pengkajian adalah
  1. Tungkai eritema, edema atau teraba seperti tali
  2. Homan’s sign : nyeri pada dorsopleksi pasif kaki

  1. Riwayat penyakit sekarang :
Pengumpulan data dilakukan untuk menentukan penyebab thrombosis vena. Nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan dalam klien.  Misalnya dari riwayat: pasca operasi besar beberapa minggu sebelumnya, imobilisasi selama > 3 hari.

  1. Riwayat penyakit dahulu :
Pada pengkajian ini, perawat dapat menentukan kemungkinan penyebab DVT adalah imobilisasi yang lama atau pernah DVT sebelumnya.

  1. Riwayat penyakit keluarga: tidak ditemukan riwayat penyakit keluarga.
  2. Riwayat Psikososial Spiritual
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari - hari, baik dalam keluarganya maupun dalam masyarakat.

  1. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik tanda – tanda klasik seperti edema kaki unilateral, eritema, hangat, nyeri, pembuluh darah superficial teraba, dan Homan’s sign positif yaitu nyeri pada daerah betis setelah dilakukan dorso fleksi pada kaki, tidak selalu ditemukan.

Bila thrombosis terjadi akibat thrombus vena superficial maka akan didapatkan data :
  1. Nyeri
  2. Tenderness
  3. Redness
  4. Teraba hangat pada daerah yang terkena

Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan D-dimer dan penurunan antithrombin (AT). Peningkatan D-dimer merupakan indicator adanya thrombosis aktif. Pemeriksaan laboratorium lain umumnya tidak terlalu bermakna untuk mendiagnosis adanya DVT, tetapi membantu menentukan factor resiko.

  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Penurunan cardiak output berhubungan dengan penurunan penurunan sirkulasi
  2. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena
  3. Resiko injury (perdarahan) berhubungan dengan pemberian antikoagulan

  1. Intervensi Keperawatan
    1. Penurunan cardiak output berhubungan dengan penurunan penurunan sirkulasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam, cardiak output klien kembali dalam nilai normal.
NOC
NIC
Circulation status
a. Tekanan darah
b. Kekuatan denyut kaki kanan
c. Kekuatan denyut kaki kiri
d. Pengisian kapiler
e. Edema perifer
f. Pucat
g. Penurunan rubor
h. Penurunan temperature tubuh
Circulatory Care: Venous Insufficiency
1. Tunjukkan tanda komphensif dari sirkulasi perifer (cek nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna dan suhu)
2. Monitor ttv terutama peningkatan denyut nadi diikuti penurunan tekanan darah
3. Observasi tanda gejala perdarahan dari mulut dan rectum, karena perdarahan merupakan komplikasi yang serius pada pasien dengan terapi trombolitik
4. kolaborasikan dengan pemberian asam amino kaproic untuk menghentikan perdarahan
5. cek secara ketat perdarahan aktif selama 24 jam setelah terapi trombolitik dihentikan, 1 jam pertama 15 menit sekali, 8 jam berikutnya tiap 30 menit dan selanjutnya tiap jam
6. Observasi tanda reaksi alergi terhadap streptokinase seperti gatal, demam, sesak napas, bronkospasme, hipertensi
7. Hindari pemberian aspirin atau obat-obat yang bersifat hemolitik selama pemberian trombolik
8. Monitor EKG untuk mendeteksi adanya reperfusi disritmia akibat pemberian trombolitik dan kemungkunan diberikannya anti disritmia

  1. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena
NOC
NIC
Pain control (1605)
Indikator keberhasilan :
  1. Melaporkan perubahan gejala nyeri kepada petugas kesehatan
  2. Melaporkan gejala tidak terkontrol
  3. Menggunakan terapi non-analgesik yang mengurangi nyeri
  4. Menggunakan terapi analgesic sesuai rekomendasi yang diberikan
  5. Melaporkan bahwa nyeri mampu dikontrol
Pain Management (1400)
  1. Kurangi faktor presipitasi
  2. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi dan non farmakologi)
  3. Bantu klien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
  4. Evaluasi bersama klien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
  5. Kolaborasikan dengan dokter bila keluhan dari tindakan nyeri tidak berhasil
Analgetic Administration (2210)
  1. Cek riwayat alergi
  2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
  3. Tentukan pilihan analgetik sesuai tipe dan beratnya nyeri
  4. Tentukanan algesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
  5. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik pertama kali
  6. Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping pemberian.

  1. Resiko injury (perdarahan) berhubungan dengan pemberian antikoagulan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama   x 24 jam, tidak terjadi perdarahan pada klien
NOC
NIC
Blood Loss Severity
a. Penurunan Hb
b. Penurunan hematocrit (Hct)

Thrombolytic Therapy Management
1.    Monitor tanda vital untuk peningkatan nadi diikuti peningkatan tekanan sistolik karena menurunnya volume darah, akibat perdarahan internal dan eksternal.
2.    Cek Protrombin time pada pemberian warfarin dan PTT untuk pemberian heparin sebelum pemberian anticoagulan. Protombin time seharusnya 1,25 s/d 2,4. Jumlah platelet harus dimonitor sebab pemberian anti coagulan dapat menurunkan jumlah platelet.
3.    Cek  perdarahan dari mulut, hidung ( epistaksis), urine ( hematuria), kulit(petechie, purpura)
4.    Cek stool ( feses ) untuk mengetahui adanya perdarahan di intestinal.
5.    Khusus untuk pasien usila yang mendapat wafarin monitor harus lebih ketat, sebab kulit sangat tipis dan pembuluh darah sangat rapuh. Pemeriksaan PT harus lebih teratur.
6.    Harus selalu ada persediaan antagonis anticoagulan( protamine, vitamin K1 atau vitamin K3)  sewaktu dosis obat maningkat atau pada kondisi terjadinya perdarahan meningkat. Disamping itu persediaan plasma mungkin diperlukan untuk antisipasi diperlukannya transfusi.
7.    Ingatkan pada pasien untuk memberitahu dokter giginya bila memerlukan kontrol terhadap gigi bahwa pasien sedang dalam pengobatan anti coagulan.
8.    Anjurkan pasien untuk menggunakan sikat gigi yang lembut untuk mencegah terjadinya perdarahan gusi.
9.    Anjurkan pasien (pria) untuk menggunakan alat cukur elektrik saat bercukur.
10.  Anjurkan pasien untuk selalu membawa kartu identitas sebagai pasien yang sedang dalam terapi anti coagulant.
11.  Anjurkan pasien untuk tidak merokok, karena merokok dapat meningkatkan metabolisme, selanjutnya dosis warfarin mungkin perlu ditingkatkan bila saat itu pasien masih aktif merokok.
12.  Ingatkan pasien untuk tidak menggunakan aspirin, gunakan obat analgesik yang mengandung asetaminofen.
13.  Ajarkan pada pasien untuk mengontrol perdarahan eksternal dengan cara penbekuan langsung pada daerah luka selama 5-10 menit dengan kasa bersih atau sterill.
14.  Anjurkan pada pasien untuk tidak mengkonsumsi alkohol yang dapat meningkatkan terjadinya perdarahan. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi sayuran hijau, ikan, hati, kopi atau teh yamg kaya akan vitamin K.
15.  Jelaskan pada pasien untuk melaporkan perdarahan seperti : ptechie, echymosis, purpura, perdarah gusi, melena.

Kasus Trombosis Vena
Ny. X 33 tahun, usia kehamilan 8 bulan, datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dibagian tungkai kaki. Saat dilakukan pemeriksaan fisik, terlihat tonjolan-tonjolan vena di bagian tungkai, warna kemerahan, dan ketika diposisikan dorsofleksi Ny. X mengeluh sangat nyeri. Homan’s test (+). Tekanan darah 90/60 mmHg,suhu 380C ,berat badan 75kg, tinggi 152cm , sianosis dan akral teraba dingin. Tampak adanya edeme di tungkai.

Pengkajian

Anamnesa
  1. Identitas Pasien
Nama        : Ny. X                                    Usia Kehamilan: 32/33 minggu (8 bulan)
Usia          : 33 tahun                    Jenis kelamin: Perempuan      
BB/TB      : 75kg/152cm

  1. Keluhan Utama
Pasien akan mengeluhkan nyeri di bagian tungkai, edema.

  1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien tampak pucat dan terjadi perubahan pada membran mukosa, tekanan darah mengalami penurunan

  1. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada riwayat penyakit masa lalu

  1. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ditemukan riwayat penyakit keluarga

  1. Pola aktivitas sehari-hari
Pasien jarang berolah raga

Pemeriksaan Fisik
  1. Primary Survey
  1. Airway
Tidak ada sumbatan jalan napas pasien

  1. Breathing
Pernapasan normal, tidak ditemukan sesak napas.

  1. Circulation
  1. Hipotensi
  2. Sianosis perifer

  1. Disability
Alert: Pasien dalam kondisi sadar
Verbal: Pasien merespon saat ditanya
Pain: Pasien berespon saat nyeri
Unresponsive: -

  1. Exposure
Pasien mengalami kenaikan suhu akibat respon inflamasi sebesar 380C.

  1. Secondary Survey
B1 (breathing) : -
B2 (blood)       : Sianosis perifer, tekanan darah turun (hipotensi). Peningkatan pendarahan vagina dan tempat yang mengalami trauma pada saat melahirkan.
B3 (brain)        : kompos mentis
B4 (bladder)    : -
B5 (bowel)      : -
B6 (bone)        : homan’s test (+)

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena
    2. Perdarahan berhubungan dengan pemberian antikoagulan

  1. Intervensi Keperawatan
  1. Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena

NOC
NIC
Pain control (1605)
Indikator keberhasilan :
  1. Melaporkan perubahan gejala nyeri kepada petugas kesehatan
  2. Melaporkan gejala tidak terkontrol
  3. Menggunakan terapi non-analgesik yang mengurangi nyeri
  4. Menggunakan terapi analgesic sesuai rekomendasi yang diberikan
  5. Melaporkan bahwa nyeri mampu dikontrol
Pain Management (1400)
  1. Kurangi faktor presipitasi
  2. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi dan non farmakologi)
  3. Bantu klien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
  4. Evaluasi bersama klien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
  5. Kolaborasikan dengan dokter bila keluhan dari tindakan nyeri tidak berhasil
Analgetic Administration (2210)
  1. Cek riwayat alergi
  2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
  3. Tentukan pilihan analgetik sesuai tipe dan beratnya nyeri
  4. Tentukanan algesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
  5. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik pertama kali
  6. Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping pemberian.

  1. Perdarahan berhubungan dengan pemberian antikoagulan
NOC
NIC
Blood Loss Severity
a. Penurunan Hb
b. Penurunan hematocrit (Hct)

Thrombolytic Therapy Management
1.    Monitor tanda vital untuk peningkatan nadi diikuti peningkatan tekanan sistolik karena menurunnya volume darah, akibat perdarahan internal dan eksternal.
2.    Cek Protrombin time pada pemberian warfarin dan PTT untuk pemberian heparin sebelum pemberian anticoagulan. Protombin time seharusnya 1,25 s/d 2,4. Jumlah platelet harus dimonitor sebab pemberian anti coagulan dapat menurunkan jumlah platelet.
3.    Cek  perdarahan dari mulut, hidung ( epistaksis), urine ( hematuria), kulit(petechie, purpura)
4.    Cek stool ( feses ) untuk mengetahui adanya perdarahan di intestinal.
5.    Khusus untuk pasien usila yang mendapat wafarin monitor harus lebih ketat, sebab kulit sangat tipis dan pembuluh darah sangat rapuh. Pemeriksaan PT harus lebih teratur.
6.    Harus selalu ada persediaan antagonis anticoagulan( protamine, vitamin K1 atau vitamin K3)  sewaktu dosis obat maningkat atau pada kondisi terjadinya perdarahan meningkat. Disamping itu persediaan plasma mungkin diperlukan untuk antisipasi diperlukannya transfusi.
7.    Ingatkan pada pasien untuk memberitahu dokter giginya bila memerlukan kontrol terhadap gigi bahwa pasien sedang dalam pengobatan anti coagulan.
8.    Anjurkan pasien untuk menggunakan sikat gigi yang lembut untuk mencegah terjadinya perdarahan gusi.
9.    Anjurkan pasien (pria) untuk menggunakan alat cukur elektrik saat bercukur.
10.  Anjurkan pasien untuk selalu membawa kartu identitas sebagai pasien yang sedang dalam terapi anti coagulant.
11.  Anjurkan pasien untuk tidak merokok, karena merokok dapat meningkatkan metabolisme, selanjutnya dosis warfarin mungkin perlu ditingkatkan bila saat itu pasien masih aktif merokok.
12.  Ingatkan pasien untuk tidak menggunakan aspirin, gunakan obat analgesik yang mengandung asetaminofen.
13.  Ajarkan pada pasien untuk mengontrol perdarahan eksternal dengan cara penbekuan langsung pada daerah luka selama 5-10 menit dengan kasa bersih atau sterill.
14.  Anjurkan pada pasien untuk tidak mengkonsumsi alkohol yang dapat meningkatkan terjadinya perdarahan. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi sayuran hijau, ikan, hati, kopi atau teh yamg kaya akan vitamin K.
15.  Jelaskan pada pasien untuk melaporkan perdarahan seperti : ptechie, echymosis, purpura, perdarah gusi, melena.

Daftar Pustaka
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah: Buku Saku dari Brunner & Suddarth. Hal. 184. Jakarta: EGC.
Bulechek, Gloria M. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) 6th ed. Missouri: Elsevier Inc.
Corwin Elizabeh.J.2009 Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 9 Alih bahasa Tim penerbit PSIK UNPAD, Jakarta: EGC.
Damayanti. Ika Putri. 2014. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Komperehensif pada Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Deepublish
Dino W. Ramzi, M.D., C.M., And Kenneth V. Leeper, M.D. 2004. DVT and PPart II. Treatment and Prevention. American Academy of Family.
Geinberg at al. 1998. Critical Decisions in Thrombosis and Hemostatis. London: B. C Decker Inc
Grace, Pierce A. dan Borley, Neil R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Ed. 3. Hal. 156-157. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hamilton, Persis Mary. 1995. Dasar-dasar keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
http://healthosphere.com/thrombosis/#venous-thrombosis, diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
Jack Hirsh, MD; John Hoak, MD. Management of Deep Vein Thrombosis and        Pulmonary Embolism . A Statement for Healthcare Professionals From the         Council on Thrombosis (in Consultation With the Council on         Cardiovascular Radiology), American Heart Association
Jodi B. Segal. Et al. Diagnosis and Treatment of Deep Venous Thrombosis and      Pulmonary Embolism. AHRQ Publication No. 03-E016 March 2003
Klossner, NJ & Hatfield, NT 2010, ‘Introductory Maternity & Pediatric Nursing, 2nd Edition’, Lippicontt Williams & Wilkins, Philadelphia.
Majalah Kedokteran Andalas No.2. Vol.25.  Juli – Desember  2001.
Manuaba, Ida B G. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
Manuaba, Ida., Ayu C., dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida B G. 2010. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obsetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC.
Moorhead, Sue. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC): Measurement of Health Outcomes 5th ed. Missouri: Elsevier Inc
Morton, PG & Fontaine, DK 2009, ‘Critical Care Nursing: A Holistic Approach, 9th Edition’, Lippicontt Williams & Wilkins, Philadelphia.
Prawirohardio, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardio, Sarwono. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Bina Pustaka.
Rizki, Deri. 2013. Kupas tuntas seputar kehamilan. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Rohen, Johanes W.. 2009. Embriologi Fungsional: Perkembangan sistem fungsi organ manusia. Jakarta : EGC
Somantri, Irman. 2007. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.