Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat

Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat - Hallo sahabat askep, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Agama, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat
link : Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat

Baca juga


Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat


PUASA RAMADHAN

PUASA



Assalamualaikum wr. wb para Pembaca yang budiman. Tidak terasa bulan yang penuh berkah dan keutamaan yaitu bulan Ramdhan telah datang. Bulan yang dimuliakan oleh Allah yang yang senantiasa disambut oleh umat muslim dengan suka cita dan hati berbunga-bunga dan kemudian mengiringinya dengan semangat untuk beribadah, Insya Allah. Alhamdulillah Allah masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, yang berarti oleh Allah kita telah diberikan kesempatan untuk meminta ampun kepada-Nya agar dihapuskan dosa-dosa kita, dan dibukakan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta dilapangkan kemudahan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya demi menggapai ridha-Nya.

Di bulan Ramdhan ini ada ibadah istimewa yang Allah wajibkan kepada seluruh umat Islam yaitu berpuasa. Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al Baqarah ayat 183 : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Pembaca yang budiman, seringkali Saya menemui pertanyaan-pertanyaan perihal berpuasa yang membuat hati Saya galau merana. Misal pertanyaan seperti bagaimana niat berpuasa yang benar, bagaimana peraturan mengganti puasa yang ditinggalkan, hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, seperti apa udzur yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan pertanyaan lainnya. Mungkin bukan hanya Saya, barangkali Pembaca sekalian juga mendapati pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi tanda tanya.

Pembaca yang budiman, pada artikel ini Saya ingin menuliskan tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan tentang puasa dan mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Tentu saja jawaban dan ulasan atas pertanyaan tersebut bukan opini Saya pribadi yang masih perlu banyak belajar ini, tetapi Saya ambil dari sebuah buku yang alhamdulillah berhasil memberikan pencerahan atas kegalauan hati Saya. Buku tersebut ditulis oleh Al Ustadz Ahmat Sarwat, LC. MA, berjudul “60 Tanya Jawab Seputar Puasa dan Ramadhan” diterbitkan oleh Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF). Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat memberikan sedikit informasi dan pengetahuan khususnya tentang puasa dan Ramdhan. Untuk artikel pertama Saya ingin menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang niat.

  1. Apakah kita wajib niat berpuasa sejak malam hari?
Jumhur ulama sepakat bahwa niat untuk berpuasa fardhu harus sudah dilakukan sejak sebelum memulai puasa. Dan puasa wajib itu tidak sah bila tidak berniat sebelum waktu fajar itu.
Dalam fiqih, hal seperti ini diistilahkan dengan tabyit an-niyah yaitu memabitkan niat. Maksudnya, niat itu harus sudah dipasang sejak semalam, batas akhirnya ketika fajar shubuh hampir terbit. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :
Dari Hafshah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Tirmidzy, An Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Namun, untuk puasa sunnah tidak harus dipasang niat sejak malam. Jadi dapat dilakukan saat siang hari, atau tiba-tiba berniat puasa pada tengah hari asalkan masih belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

  1. Apakah tiap malam harus ada niat tersendiri? Bolehkah niatnya digabung untuk sebulan ke depan?
Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pada setiap malam yang besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Satu niat tidak dapat digunakan untuk niat satu bulan. Hal ini karena masing-masing hari merupakan ibadah yang terpisah-pisah dan bukan merupakan satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang dapat berniat puasa di suatu hari dan dapat pula berniat tidak berpuasa di hari yang lain. Oleh karena itu jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat di setiap hari sebelum melaksanakan puasa meskipun tidak dilafadzkan.
Sedangkan kalangan fuqaha dari Al Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajibkan hal itu. Bahkan bila mengacu pada ayat Al Qur’an , jelas sekali bahwa niat berpuasa Ramadhan itu untuk satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari. Ayat yang dimaksud adalah :
“…Siapa diantara kalian yang menyaksikan Bulan (Ramadhan), maka berpuasalah…” (QS. Al Baqarah: 185)

  1. Apakah niat itu harus dilafazkan dengan “Nawaitu shauma ghadin”?
Para ulama sepakat bahwa seseorang yang sekedar melafadzkan niat seperti di atas maka hukumnya belum sampai kepada niat itu sendiri. Sebab niat tersebut baru sampai pada lisan saja padahal hakikatnya niat itu berasal dari dalam hati. Sehingga pada dasarnya niat itu tidak harus dilafadzkan.

Demikian ulasan mengenai pertanyaan-pertanyaan tentang puasa dan Ramadhan yang sering ditanyakan tentang niat. Semoga artikel ini berguna dan bermanfaat. Di artikel berikutnya, Saya akan membahas tentang pertanyaan-pertanyaan seputar puasa dan Ramdhan yang lain. Insya Allah…
Terima kasih   



Demikianlah Artikel Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat

Sekianlah artikel Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Tanya Jawab tentang Puasa Ramadhan : Niat dengan alamat link https://askep-nursing.blogspot.com/2017/05/tanya-jawab-tentang-puasa-ramadhan-niat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar