Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap

Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap - Hallo sahabat askep, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel askep, Artikel askep pdf, Artikel asuhan keperawatan, Artikel Maternitas, Artikel Perawat, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap
link : Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap

Baca juga


Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi
Sectio caesarea  adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina; atau seksio sesaria adalah suatu histereotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

Kelahiran  melalui sectio caesarea  didefinisikan sebagai kelahiran bayi melalui insisi operasi yang dibuat sepanjang dinding abdomen (laparotomy) dan dinding uterina (hysterotomy)(Joy 2011).

Menurut Towle & Adams (2008), sectio caesarea  dilakukan untuk berbagai alasan, termasuk plasenta previa, solusio plasenta, CPD, gawat janin, presentasi sungsang, pre-eklampsia, kehamilan ganda, dan kelahiran sesar sebelumnya. Sebuah kelahiran sesar bisa menjadi peristiwa yang direncanakan, tidak dijadwalkan, atau keadaan darurat untuk menyelamatkan ibu dan/atau janin.

Sectio caesarea  adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus. Jika janin belum mampu hidup, tindakan yang sama disebut histerotomi abdominal (Benson, et al, 2008).

  1. Klasifikasi
Klasifikasi sectio caesarea menurut Mochtar (2003), antara lain :
  1. Sectio Caesarea Abdominalis
  1. Sectio Caesarea transperitonealis
  1. Sectio Caesarea klasik atau kopral dengan insisi memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.
Kelebihan:
  1. Mengeluarkan janin lebih cepat.
  2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik.
  3. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal.

Kekurangan:
  1. Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik.
  2. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptur uteri spontan.

  1. Sectio Caesarea ismika atau profunda dengan insisi pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.
Kelebihan:
  1. Penutupan luka lebih mudah.
  2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik.
  3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
  4. Perdarahan minimal.
  5. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan rupture uteri spontan minimal/lebih kecil.

Kekurangan:
  1. Luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak.
  2. Keluhan pada kandung kemih postoperative tinggi.

  1. Sectio Caesarea Ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal. Pembedahan jenis ini dikerjakan untuk menghindari perlunya histerektomi pada kasus-kasus yang mengalami infeksi luas dengan mencegah peritonitis generalisata yang sering bersifat fatal. Teknik pada prosedur ini relative sulit, sering tanpa sengaja masuk dalam cavum peritoneal dan insidensi cedera vesika urinaria meningkat.

Sementara menurut Kasdu (2003), membedakan jenis operasi Caesar menjadi 2 yaitu sayatan melintang dan vertikal.  Terdapat kerugian dari operasi Caesarea dengan jenis sayatan melintang, antara lain: lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut), memiliki resiko empat kali lebih besar terkena rupture uteri pada kehamilan selanjutnya, otot-otot rahimnya lebih tebal dan lebih banyak pembuluh darahnya sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. Akibatnya, lebih banyak parut di daerah dinding atas rahim. Oleh karena itu, pasien tidak dianjurkan hamil lagi, jika menggunakan anestesi lokal, sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak.

Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap

Gambar 3. Insisi uteri untuk sectio caesarea  (Towle & Adams, 2008)

  1. Indikasi sectio caesarea
  1. Indikasi Janin
  1. Janin besar
Berat bayi 4000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Dengan perkiraan berat yang sama tetapi pada ibu yang berbeda, maka tindakan persalinan yang dilakukan juga berbeda (Oxom, 2003).

  1. Gawat janin
Diagnosa gawat janin berdasarkan pada keadaan kekurangan oksigen (hipoksia) yang diketahui dari denyut jantung janin yang abnormal, dan adanya mekonium dalam air ketuban. Normalnya, air ketuban pada bayi cukup bulan berwarna putih agak keruh, seperti air cucian beras. Jika tindakan sectio caesarea  tidak dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi kerusakan neurologis akibat keadaan asidosis yang progresif, dan bila ibu juga menderita tekanan darah tinggi atau kejang pada rahim, mengakibatkan gangguan pada plasenta dan tali pusat sehingga aliran oksigen kepada bayi menjadi berkurang. Kondisi ini bisa menyebabkan janin mengalami kerusakan otak, bahkan tidak jarang meninggal dalam rahim (Oxom, 2003).

  1. Letak lintang
Kelainan letak ini dapat disebabkan karena adanya tumor di jalan lahir, panggul sempit, kelainan dinding rahim, kelainan bentuk rahim, plasenta previa,  dan kehamilan kembar. Keadaan tersebut menyebabkan keluarnya bayi terhenti dan macet dengan presentasi tubuh janin di dalam rahim. Kelahiran secara sectio caesarea  diindikasikan jika terdapat ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan disertai dengan tali pusat menumbung (Wirakusumah, 1994).

  1. Letak sungsang
Resiko bayi lahir sungsang dengan presentasi bokong pada persalinan alami diperkirakan empat kali lebih besar dibandingkan keadaan normal. Pada bayi aterm, tahapan moulage kepala sangat penting agar kepala berhasil lewat jalan lahir. Pada keadaan ini persalinan pervaginam kurang menguntungkan. Karena persalinan yang dipacu dapat menyebabkan trauma karena penekanan (Dewi, 2007).

  1. Bayi Kembar
Kelahiran kembar mempunyai resiko terjadinya komplikasi yang lebih tinggi misalnya terjadi pre-eklamsia pada ibu hamil yang stress, cairan ketuban yang berlebihan. Saat kontrol, sebaiknya ibu aktif bertanya perihal letak janin di dalam kandungan. Begitu juga dengan umur kehamilan, perkiraan berat janin, letak plasenta serta volume air ketuban. Sectio caesarea  dilakukan jika terdapat janin pertama dalam keadaan letak lintang, tali pusat menumbung, plasenta previa (Manuaba, 1999).

  1. Indikasi Ibu
  1. Disproporsi Sefalopelvik
Pengukuran panggul merupakan cara pemeriksaan yang penting untuk mendapatkan keterangan mengenai panggul. Disproporsi sefalopelvik mencakup panggul sempit, fetus yang tumbuh terlampau besar atau adanya ketidakseimbangan relative antara ukuran kepala bayi dan pelvis (panggul) (Wiknojosastro, 2000).

  1. Preeklampsia dan Eklampsia
Pre-eklampsia adalah penyakit dengan tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam trimester ke-3 dalam kehamilan (Tanjung, 2004).

Eklampsia adalah memburuknya keadaan preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala seperti nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual, nyeri di epigastrium, dan hiperefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejang (Tanjung, 2004).

  1. Partus tak maju
Partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala, dan putar paksi dalam selama 2 jam terakhir. Partus tak maju dapat disebabkan oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan his, pimpinan partus yang salah, janin besar, primitua, dan ketuban pecah dini. Persalinan tak maju adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara, dan lebih dari 18 jam pada multipara (Mochtar, 1998).

  1. Riwayat sectio caesarea  sebelumnya
Selama bertahun-tahun, uterus yang mengalami jaringan parut dianggap merupakan kontraindikasi untuk persalinan karena ketakutan akan kemungkinan ruptur uterus (Cunningham, et.al., 2005).

  1. Kontraindikasi sectio caesarea
Sectio caesarea  tidak boleh dilakukan kalau ada keadaan berikut ini :
  1. Janin mati
  2. Syok
  3. Anemia berat
  4. Kelainan congenital berat

  1. Pemeriksaan Penunjang
Pada klien sectio caesaria sering terjadi perubahan volume darah dari kadar pra operasi dan untuk mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan, perlu dilakukan pemeriksaan hematologi. Pemeriksaan hematologi yang diperlukan adalah hitung jumlah darah lengkap, hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht). Selain itu juga terdapat pemeriksaan urinalisis, meliputi kultur urine, darah, vaginal dan lochea. Terdapat juga pemeriksaan tambahan berdasarkan kebutuhan individual (Doenges 2001).

Menurut Manuaba,1999 pemeriksaan penunjang sebagai data untuk menunjang diagnosa secara pasti dapat dilakukan pemeriksaan:
  1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan.mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
  2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
  3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
  4. Urinalisis / kultur urine
  5. Pemeriksaan elektrolit

  1. Tahapan Operasi Sectio Caesaria
  1. Persiapan
  1. Periksa Lab lengkap (HB, AL, APTT, GOL,AT, HMT, HBsAG, GDS)
  2. Melakukan Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan obstetric, Pemeriksaan darah dan labolatorium rutin, Pemeriksaan alergi dan riwayat medis lain, status nutrisi dan cairan, pemeriksaan radiologi (Rontgen dan USG). Untuk memastikan pasien sudah memenuhi kriteria dilakukan operasi.
  3. Siapkan resusitasi janin (prosedur tetap penanganan bayi baru lahir )
  4. Siapkan obat-obatan sesuai prosedur tetap: al. Antikoagulasi, Antibiotika, analgetika, corticosteroid, dll.
  5. Siapkan tranfusi darah

  1. Tindakan Pre Operasi sectio caesaria
  1. Siapkan mental pasien
  2. Informed consent dari pasien,suami atau keluarga
  3. Beri konseling, informasi atau perosedur operasi secara sederhana jalannya operasi dan kenalkan dokter yang akan operasi
  4. Cukur bulu kemaluan, cukur daerah perut sampai bersih
  5. Pasien puasa minimal 6 jam
  6. Melepas semua perhiasan dan gigi palsu.
  7. Siapkan obat-obatan dan status lengkap
  8. Kosongkan kandung kencing atau pasang kateter
  9. Melepas baju pasien dan mengganti dengan baju khusus operasi
  10. Bimbing doa sebelum operasi
  11. Observasi: DJJ, his, dan pengeluaran pervaginam
  12. Bawa/antar pasien kekamar operasi dengan brangkar bersama status obat-obatan dll
  13. Pasien dipindahkan ke meja operasi, Meletakkan pasien dengan posisi terlentang, Mempersiapkan pasien untuk pemberian anasthesi

  1. Tindakan  Operasi sectio caesaria
  1. Pasien dipindahkan ke meja pembedahan, Pemasangan infus, Daerah rambut kepala ditutup, cek apakah daerah pembedahan yang berambut sudah dicukur.
  2. Dilakukan pembiusan
Bisa menggunakan anastesi regional ataupun general. Jika dilakukan anasthesi SAB pasien terlebih dahulu diberi obet (adrenalin). Setelah pasien berada di meja operasi posisi segera diatur yaitu dimiringkan ke kanan kaki ditekuk sampai menyentuh perut dan dagu menyentuh dada. Daerah yang akan dilakukan penusukan didesinfeksi terlebih dahulu setelah itu dilakukan penusukan pada daerah lumbal ke 5.

  1. Pasien dibaringkan dengan wajah menghadap keatas dan kepala tengadah untuk memudahkan pernafasan.
  2. Kulit perut dibersihkan dengan bilasan air dan sabun untuk membersihkan lemak dan kotoran. Untuk mencegah kontaminasi kulit perut dioleskan cairan antiseptic. Selanjutnya, dipasang dipasang kain steril dengan lubang yang telah dioleskan cairan antiseptic. Jika prsalinan dilakukan dengan bius regional, akan dibentang sehelai kain diatas perut pasien untuk menutupi jalanya operasi dari pandangan pasien. Setelah itu mulai dilakukan pembedahan.
  3. Dilakukan pembedahan atau insisi pada daerah : Kulit, Lemak, Fascia, Muskulus, Peritonium, retro, Uterus
  4. Setelah dilakukan insisi segera keluarkan kepala bayi dengan menggunakan slebor, kemudian tarik secara perlahan tubuh bayi beserta placenta dari dalam uterus.
  5. Bersihkan daerah yang sudah dibedah dengan PZ, Lakukan hecthing, Olesi daerah yang sudah di heathing dengan antiseptic, Tutup dengan kasa lalu plester
  6. Setelah itu pasien dipindahkan ke branckar menuju ke ruang pemulihan

  1. Tindakan Post Operasi Sectio Caesaria
Setelah dari ruang operasi pasien akan dibawa keruang pemulihan. Di ruang ini, berbagai pemeriksaan akan dilakukan, meliputi, pemeriksaan tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, jumlah urin yang tertampung dikantong urin, jumlah darah dalam tubuh, jumlah darah dan bentuk cairan lokhea serta efek anastesi.

Pemeriksaan dan monitoring akan dilakukan setiap empat jam sekali pada hari pertama dan kedua, dan dua kali sehari pada hari ketiga sampai sampai saatnya pulang kembali kerumah.

Persalinan yang dilakukan dengan operasi membutuhkan rawat inap yang lama dirumah sakit, tergantung cepat lambatnya penyembuhan ibu akibat proses pembedahan. Biasanya membutuhkan waktu 3-5 hari setelah operasi. Pada hari ke-5, apabila tidak ada komplikasi, ibu diperbolehkan pulang kerumah. 

  1. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Post Operasi sectio caesarea  menurut Sugeng Jitowiyono,2010 yaitu :
  1. Analgesia
Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin (intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.

  1. Tanda-tanda Vital
TTV setiap 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urine serta melakukan pemantauan jumlah dan penampilan lokhea yang bercampur darah, jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa.

  1. Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.

  1. Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya setelah operasi.Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga. Mencatat dan memeriksa air seni yang keluar dan tertampung dikantong urin selama ibu masih menggunakan kateter.

  1. Mobilisasi
Mobilisasi segera tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan pasien. Mobilisasi berguna untuk mencegah terjadinya thrombosis, emboli serta memperoleh kembali kekuatan dengan cepat dan mempermudah kerja usus besar serta kandung kemih, paling tidak ibu bisa buang gas. Miring ke kanan dan kiri sudah dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah pasien sadar dan ibu dibantu untuk menggerakan lengan, tangan, kaki, dan jari-jari agar organ pencernaan segera kembali normal.  Ibu diminta memulai gerakan dari menggerakan ujung jari kaki, memutar pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis, serta menekuk dan menggeser-geser kaki kearah pinggir tempat tidur. Latihan pernafasan dapat dilakukan pasien sambil tidur terlentang sedini mungkin setelah sadar. Pada hari kedua pasien dapat didukukan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam-dalam lalu menghembuskanya disertai batuk-batuk kecil yang gunanya untuk melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada diri pasien bahwa ia mulai pulih. Kemudian posisi tidur terlentang dirubah menjadi setengah duduk (semi fowler). Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan dan berjalan sendiri pada hari ke 2 sampai 3 pasca bedah.

  1. Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang alternatif ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.

  1. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.

  1. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.

  1. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi, aktivitas ibu seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan orang lain.

  1. Komplikasi
Menurut Rustam (2002). Komplikasi akibat sectio caesarea pada ibu  antara lain:
  1. Infeksi puerperal ( nifas )
Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum keadaan pembedahan sudah ada gejala-gejala infeksi intra partum atau ada faktor-faktor yangmerupakan gejala infeksi.
  1. Infeksi bersifat ringan :kenaikan suhu beberapa hari saja.
  2. Infeksi bersifat sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi,disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung.
  3. Infeksi bersifat berat : dengan peritonitis septis ileus paralitik, halini sering kita jumpai pada partus terlambat, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intraportal karena ketuban yang telah lama. Penanganannya adalah dengan pemberian cairan elektrolik dan antibiotic yang adekuat dan tepat.

  1. Perdarahan
Rata-rata darah hilang akibat sectio caesarea  2 kali lebih banyak daripada yang hilang dengan kelahiran melalui vagina.Kira-kira 800 – 1000 ml yang disebabkan oleh banyaknya pembuluh darah yang terputus,atonia uteri dan pelepasan pada plasenta.

  1. Emboli pulmonal
Terjadi karena penderita dengan insisi abdomen kurang dapat mobilisasi dibandingkan dengan melahirkan melalui vagina (normal).

  1. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.
  2. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang.

Komplikasi akibat persalinan SC yang bisa terjadi pada bayi antara lain:
  1. Bayi menjadi kurang aktif dan lebih banyak tidur akibat dari efek obat bius, sehingga akan mempengaruhi pemberian ASI.
  2. Bayi yang dilahirkan melalui SC sering mengalami gangguan pernafasan karena kelahiran yang terlalu cepat sehingga tidak mengalami adaptasi atau transisi antara dunia dalam rahim dan luar rahim ini menyebabkan nafas bayi terlalu cepat.
  3. Angka mortalitas bayi dengan ibu yang melahirkan dengan proses SC berkisar antara 4 dan 7% (Wiknjosastro, 2000).

  1. Prognosis
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi.Pada masa sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika, angka kematian sangat menurun.

Angka kematian ibu pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga kesehatan yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Nasib janin yang ditolong secara sectio caesarea  sangat tergantung dari keaadaan janin  sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7%.


WOC SECTIO CAESAREA



DAFTAR PUSTAKA

Benson, Ralph C. Pernol, Martin L. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi Ed. 9. Jakarta: EGC
Cunningham, F. G. et.al. 2005. Obstetri WilliamEdisi XXIVol. 2. Jakarta : EGC
Dewi, Y. et.al. 2007. Operasi Caesar : Pengantar dari A sampai Z. Jakarta : EDSA Mahkota.
Doenges, M.E. 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi: Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Dokumentasi Perawatan Klien Edisi 2. Jakarta : EGC
Gibson, John, MD. 2000. Anatomi dan Fisiologi Modern. Jakarta : EGC
Jitowiyo, Sugeng & Kristiyanasari, Weni. 2010. Asuhan Keperawatan Post Operasi. Yogyakarta : Nuha Medika.
Joy, Saju et al. 2011. Cesarean Delivery. LLC: Medscape
Kasdu. D., 2003, Operasi Caesar ; Masalah dan Solusinya, Cetakan Pertama, Puspa Swara, Jakarta.
Manuaba, I. B. G. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC.
Moctar, R., 2013, Sinopsis Obstetri Edisi 3. Jakarta: EGC
Oxorn, Harry dan Forte William. 2010. Ilmu Kebidanan: Patologi & Fisiologi Persalinan. Yogyakarta : YEM
Pearce, Evelin C. 2009. .Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal . Jakarta: YBP-SP
Sarwono, Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Setyowati, Y., Supartini (2012) Karakteristik yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas Post Sectio Caesaria (Di Ruang Merpati RSUD Dr. Soetomo Surabaya).Hal 12
Tanjung, M. T. 2004. Preeklampsia Studi tentang Hubungannya dengan Faktor Fibrinolisis Ibu dan Gas Darah Tali Pusat Ed. 1. Medan : Pustaka Bangsa Press
Towle, Marry Ann & Adams, Ellise D. 2008. Maternal-Child Nursing Care. New Jersey: Pearson Education.
Wiknojosastro, S. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.Wirakusumah, F. 1994. Evaluasi Resiko SC : Suatu Studi di Dua RS Pendidikan, RS Hasan Sadikin Bandung dan RS Pendidikan Lerden. Journal Medical Bandung.
Wylie, Linda.2011 Esensial Anatomi & Fisiologi dalam Asuhan Maternitas. Jakarta : EGC






TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi
Sectio caesarea  adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina; atau seksio sesaria adalah suatu histereotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

Kelahiran  melalui sectio caesarea  didefinisikan sebagai kelahiran bayi melalui insisi operasi yang dibuat sepanjang dinding abdomen (laparotomy) dan dinding uterina (hysterotomy)(Joy 2011).

Menurut Towle & Adams (2008), sectio caesarea  dilakukan untuk berbagai alasan, termasuk plasenta previa, solusio plasenta, CPD, gawat janin, presentasi sungsang, pre-eklampsia, kehamilan ganda, dan kelahiran sesar sebelumnya. Sebuah kelahiran sesar bisa menjadi peristiwa yang direncanakan, tidak dijadwalkan, atau keadaan darurat untuk menyelamatkan ibu dan/atau janin.

Sectio caesarea  adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus. Jika janin belum mampu hidup, tindakan yang sama disebut histerotomi abdominal (Benson, et al, 2008).

  1. Klasifikasi
Klasifikasi sectio caesarea menurut Mochtar (2003), antara lain :
  1. Sectio Caesarea Abdominalis
  1. Sectio Caesarea transperitonealis
  1. Sectio Caesarea klasik atau kopral dengan insisi memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm.
Kelebihan:
  1. Mengeluarkan janin lebih cepat.
  2. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik.
  3. Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal.

Kekurangan:
  1. Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik.
  2. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptur uteri spontan.

  1. Sectio Caesarea ismika atau profunda dengan insisi pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.
Kelebihan:
  1. Penutupan luka lebih mudah.
  2. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik.
  3. Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
  4. Perdarahan minimal.
  5. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan rupture uteri spontan minimal/lebih kecil.

Kekurangan:
  1. Luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat menyebabkan arteri uterina putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak.
  2. Keluhan pada kandung kemih postoperative tinggi.

  1. Sectio Caesarea Ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal. Pembedahan jenis ini dikerjakan untuk menghindari perlunya histerektomi pada kasus-kasus yang mengalami infeksi luas dengan mencegah peritonitis generalisata yang sering bersifat fatal. Teknik pada prosedur ini relative sulit, sering tanpa sengaja masuk dalam cavum peritoneal dan insidensi cedera vesika urinaria meningkat.

Sementara menurut Kasdu (2003), membedakan jenis operasi Caesar menjadi 2 yaitu sayatan melintang dan vertikal.  Terdapat kerugian dari operasi Caesarea dengan jenis sayatan melintang, antara lain: lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut), memiliki resiko empat kali lebih besar terkena rupture uteri pada kehamilan selanjutnya, otot-otot rahimnya lebih tebal dan lebih banyak pembuluh darahnya sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. Akibatnya, lebih banyak parut di daerah dinding atas rahim. Oleh karena itu, pasien tidak dianjurkan hamil lagi, jika menggunakan anestesi lokal, sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak.

Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap

Gambar 3. Insisi uteri untuk sectio caesarea  (Towle & Adams, 2008)

  1. Indikasi sectio caesarea
  1. Indikasi Janin
  1. Janin besar
Berat bayi 4000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Dengan perkiraan berat yang sama tetapi pada ibu yang berbeda, maka tindakan persalinan yang dilakukan juga berbeda (Oxom, 2003).

  1. Gawat janin
Diagnosa gawat janin berdasarkan pada keadaan kekurangan oksigen (hipoksia) yang diketahui dari denyut jantung janin yang abnormal, dan adanya mekonium dalam air ketuban. Normalnya, air ketuban pada bayi cukup bulan berwarna putih agak keruh, seperti air cucian beras. Jika tindakan sectio caesarea  tidak dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi kerusakan neurologis akibat keadaan asidosis yang progresif, dan bila ibu juga menderita tekanan darah tinggi atau kejang pada rahim, mengakibatkan gangguan pada plasenta dan tali pusat sehingga aliran oksigen kepada bayi menjadi berkurang. Kondisi ini bisa menyebabkan janin mengalami kerusakan otak, bahkan tidak jarang meninggal dalam rahim (Oxom, 2003).

  1. Letak lintang
Kelainan letak ini dapat disebabkan karena adanya tumor di jalan lahir, panggul sempit, kelainan dinding rahim, kelainan bentuk rahim, plasenta previa,  dan kehamilan kembar. Keadaan tersebut menyebabkan keluarnya bayi terhenti dan macet dengan presentasi tubuh janin di dalam rahim. Kelahiran secara sectio caesarea  diindikasikan jika terdapat ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan disertai dengan tali pusat menumbung (Wirakusumah, 1994).

  1. Letak sungsang
Resiko bayi lahir sungsang dengan presentasi bokong pada persalinan alami diperkirakan empat kali lebih besar dibandingkan keadaan normal. Pada bayi aterm, tahapan moulage kepala sangat penting agar kepala berhasil lewat jalan lahir. Pada keadaan ini persalinan pervaginam kurang menguntungkan. Karena persalinan yang dipacu dapat menyebabkan trauma karena penekanan (Dewi, 2007).

  1. Bayi Kembar
Kelahiran kembar mempunyai resiko terjadinya komplikasi yang lebih tinggi misalnya terjadi pre-eklamsia pada ibu hamil yang stress, cairan ketuban yang berlebihan. Saat kontrol, sebaiknya ibu aktif bertanya perihal letak janin di dalam kandungan. Begitu juga dengan umur kehamilan, perkiraan berat janin, letak plasenta serta volume air ketuban. Sectio caesarea  dilakukan jika terdapat janin pertama dalam keadaan letak lintang, tali pusat menumbung, plasenta previa (Manuaba, 1999).

  1. Indikasi Ibu
  1. Disproporsi Sefalopelvik
Pengukuran panggul merupakan cara pemeriksaan yang penting untuk mendapatkan keterangan mengenai panggul. Disproporsi sefalopelvik mencakup panggul sempit, fetus yang tumbuh terlampau besar atau adanya ketidakseimbangan relative antara ukuran kepala bayi dan pelvis (panggul) (Wiknojosastro, 2000).

  1. Preeklampsia dan Eklampsia
Pre-eklampsia adalah penyakit dengan tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam trimester ke-3 dalam kehamilan (Tanjung, 2004).

Eklampsia adalah memburuknya keadaan preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala seperti nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual, nyeri di epigastrium, dan hiperefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejang (Tanjung, 2004).

  1. Partus tak maju
Partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala, dan putar paksi dalam selama 2 jam terakhir. Partus tak maju dapat disebabkan oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan his, pimpinan partus yang salah, janin besar, primitua, dan ketuban pecah dini. Persalinan tak maju adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara, dan lebih dari 18 jam pada multipara (Mochtar, 1998).

  1. Riwayat sectio caesarea  sebelumnya
Selama bertahun-tahun, uterus yang mengalami jaringan parut dianggap merupakan kontraindikasi untuk persalinan karena ketakutan akan kemungkinan ruptur uterus (Cunningham, et.al., 2005).

  1. Kontraindikasi sectio caesarea
Sectio caesarea  tidak boleh dilakukan kalau ada keadaan berikut ini :
  1. Janin mati
  2. Syok
  3. Anemia berat
  4. Kelainan congenital berat

  1. Pemeriksaan Penunjang
Pada klien sectio caesaria sering terjadi perubahan volume darah dari kadar pra operasi dan untuk mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan, perlu dilakukan pemeriksaan hematologi. Pemeriksaan hematologi yang diperlukan adalah hitung jumlah darah lengkap, hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht). Selain itu juga terdapat pemeriksaan urinalisis, meliputi kultur urine, darah, vaginal dan lochea. Terdapat juga pemeriksaan tambahan berdasarkan kebutuhan individual (Doenges 2001).

Menurut Manuaba,1999 pemeriksaan penunjang sebagai data untuk menunjang diagnosa secara pasti dapat dilakukan pemeriksaan:
  1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan.mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
  2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
  3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
  4. Urinalisis / kultur urine
  5. Pemeriksaan elektrolit

  1. Tahapan Operasi Sectio Caesaria
  1. Persiapan
  1. Periksa Lab lengkap (HB, AL, APTT, GOL,AT, HMT, HBsAG, GDS)
  2. Melakukan Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan obstetric, Pemeriksaan darah dan labolatorium rutin, Pemeriksaan alergi dan riwayat medis lain, status nutrisi dan cairan, pemeriksaan radiologi (Rontgen dan USG). Untuk memastikan pasien sudah memenuhi kriteria dilakukan operasi.
  3. Siapkan resusitasi janin (prosedur tetap penanganan bayi baru lahir )
  4. Siapkan obat-obatan sesuai prosedur tetap: al. Antikoagulasi, Antibiotika, analgetika, corticosteroid, dll.
  5. Siapkan tranfusi darah

  1. Tindakan Pre Operasi sectio caesaria
  1. Siapkan mental pasien
  2. Informed consent dari pasien,suami atau keluarga
  3. Beri konseling, informasi atau perosedur operasi secara sederhana jalannya operasi dan kenalkan dokter yang akan operasi
  4. Cukur bulu kemaluan, cukur daerah perut sampai bersih
  5. Pasien puasa minimal 6 jam
  6. Melepas semua perhiasan dan gigi palsu.
  7. Siapkan obat-obatan dan status lengkap
  8. Kosongkan kandung kencing atau pasang kateter
  9. Melepas baju pasien dan mengganti dengan baju khusus operasi
  10. Bimbing doa sebelum operasi
  11. Observasi: DJJ, his, dan pengeluaran pervaginam
  12. Bawa/antar pasien kekamar operasi dengan brangkar bersama status obat-obatan dll
  13. Pasien dipindahkan ke meja operasi, Meletakkan pasien dengan posisi terlentang, Mempersiapkan pasien untuk pemberian anasthesi

  1. Tindakan  Operasi sectio caesaria
  1. Pasien dipindahkan ke meja pembedahan, Pemasangan infus, Daerah rambut kepala ditutup, cek apakah daerah pembedahan yang berambut sudah dicukur.
  2. Dilakukan pembiusan
Bisa menggunakan anastesi regional ataupun general. Jika dilakukan anasthesi SAB pasien terlebih dahulu diberi obet (adrenalin). Setelah pasien berada di meja operasi posisi segera diatur yaitu dimiringkan ke kanan kaki ditekuk sampai menyentuh perut dan dagu menyentuh dada. Daerah yang akan dilakukan penusukan didesinfeksi terlebih dahulu setelah itu dilakukan penusukan pada daerah lumbal ke 5.

  1. Pasien dibaringkan dengan wajah menghadap keatas dan kepala tengadah untuk memudahkan pernafasan.
  2. Kulit perut dibersihkan dengan bilasan air dan sabun untuk membersihkan lemak dan kotoran. Untuk mencegah kontaminasi kulit perut dioleskan cairan antiseptic. Selanjutnya, dipasang dipasang kain steril dengan lubang yang telah dioleskan cairan antiseptic. Jika prsalinan dilakukan dengan bius regional, akan dibentang sehelai kain diatas perut pasien untuk menutupi jalanya operasi dari pandangan pasien. Setelah itu mulai dilakukan pembedahan.
  3. Dilakukan pembedahan atau insisi pada daerah : Kulit, Lemak, Fascia, Muskulus, Peritonium, retro, Uterus
  4. Setelah dilakukan insisi segera keluarkan kepala bayi dengan menggunakan slebor, kemudian tarik secara perlahan tubuh bayi beserta placenta dari dalam uterus.
  5. Bersihkan daerah yang sudah dibedah dengan PZ, Lakukan hecthing, Olesi daerah yang sudah di heathing dengan antiseptic, Tutup dengan kasa lalu plester
  6. Setelah itu pasien dipindahkan ke branckar menuju ke ruang pemulihan

  1. Tindakan Post Operasi Sectio Caesaria
Setelah dari ruang operasi pasien akan dibawa keruang pemulihan. Di ruang ini, berbagai pemeriksaan akan dilakukan, meliputi, pemeriksaan tanda-tanda vital, tingkat kesadaran, jumlah urin yang tertampung dikantong urin, jumlah darah dalam tubuh, jumlah darah dan bentuk cairan lokhea serta efek anastesi.

Pemeriksaan dan monitoring akan dilakukan setiap empat jam sekali pada hari pertama dan kedua, dan dua kali sehari pada hari ketiga sampai sampai saatnya pulang kembali kerumah.

Persalinan yang dilakukan dengan operasi membutuhkan rawat inap yang lama dirumah sakit, tergantung cepat lambatnya penyembuhan ibu akibat proses pembedahan. Biasanya membutuhkan waktu 3-5 hari setelah operasi. Pada hari ke-5, apabila tidak ada komplikasi, ibu diperbolehkan pulang kerumah. 

  1. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Post Operasi sectio caesarea  menurut Sugeng Jitowiyono,2010 yaitu :
  1. Analgesia
Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin (intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.

  1. Tanda-tanda Vital
TTV setiap 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urine serta melakukan pemantauan jumlah dan penampilan lokhea yang bercampur darah, jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa.

  1. Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.

  1. Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya setelah operasi.Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga. Mencatat dan memeriksa air seni yang keluar dan tertampung dikantong urin selama ibu masih menggunakan kateter.

  1. Mobilisasi
Mobilisasi segera tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan pasien. Mobilisasi berguna untuk mencegah terjadinya thrombosis, emboli serta memperoleh kembali kekuatan dengan cepat dan mempermudah kerja usus besar serta kandung kemih, paling tidak ibu bisa buang gas. Miring ke kanan dan kiri sudah dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah pasien sadar dan ibu dibantu untuk menggerakan lengan, tangan, kaki, dan jari-jari agar organ pencernaan segera kembali normal.  Ibu diminta memulai gerakan dari menggerakan ujung jari kaki, memutar pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis, serta menekuk dan menggeser-geser kaki kearah pinggir tempat tidur. Latihan pernafasan dapat dilakukan pasien sambil tidur terlentang sedini mungkin setelah sadar. Pada hari kedua pasien dapat didukukan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam-dalam lalu menghembuskanya disertai batuk-batuk kecil yang gunanya untuk melonggarkan pernafasan dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada diri pasien bahwa ia mulai pulih. Kemudian posisi tidur terlentang dirubah menjadi setengah duduk (semi fowler). Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan dan berjalan sendiri pada hari ke 2 sampai 3 pasca bedah.

  1. Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang alternatif ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.

  1. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.

  1. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.

  1. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi, aktivitas ibu seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan orang lain.

  1. Komplikasi
Menurut Rustam (2002). Komplikasi akibat sectio caesarea pada ibu  antara lain:
  1. Infeksi puerperal ( nifas )
Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum keadaan pembedahan sudah ada gejala-gejala infeksi intra partum atau ada faktor-faktor yangmerupakan gejala infeksi.
  1. Infeksi bersifat ringan :kenaikan suhu beberapa hari saja.
  2. Infeksi bersifat sedang : dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi,disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung.
  3. Infeksi bersifat berat : dengan peritonitis septis ileus paralitik, halini sering kita jumpai pada partus terlambat, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intraportal karena ketuban yang telah lama. Penanganannya adalah dengan pemberian cairan elektrolik dan antibiotic yang adekuat dan tepat.

  1. Perdarahan
Rata-rata darah hilang akibat sectio caesarea  2 kali lebih banyak daripada yang hilang dengan kelahiran melalui vagina.Kira-kira 800 – 1000 ml yang disebabkan oleh banyaknya pembuluh darah yang terputus,atonia uteri dan pelepasan pada plasenta.

  1. Emboli pulmonal
Terjadi karena penderita dengan insisi abdomen kurang dapat mobilisasi dibandingkan dengan melahirkan melalui vagina (normal).

  1. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila reperitonialisasi terlalu tinggi.
  2. Kemungkinan ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang.

Komplikasi akibat persalinan SC yang bisa terjadi pada bayi antara lain:
  1. Bayi menjadi kurang aktif dan lebih banyak tidur akibat dari efek obat bius, sehingga akan mempengaruhi pemberian ASI.
  2. Bayi yang dilahirkan melalui SC sering mengalami gangguan pernafasan karena kelahiran yang terlalu cepat sehingga tidak mengalami adaptasi atau transisi antara dunia dalam rahim dan luar rahim ini menyebabkan nafas bayi terlalu cepat.
  3. Angka mortalitas bayi dengan ibu yang melahirkan dengan proses SC berkisar antara 4 dan 7% (Wiknjosastro, 2000).

  1. Prognosis
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi.Pada masa sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika, angka kematian sangat menurun.

Angka kematian ibu pada rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga kesehatan yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Nasib janin yang ditolong secara sectio caesarea  sangat tergantung dari keaadaan janin  sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7%.


WOC SECTIO CAESAREA



DAFTAR PUSTAKA

Benson, Ralph C. Pernol, Martin L. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi Ed. 9. Jakarta: EGC
Cunningham, F. G. et.al. 2005. Obstetri WilliamEdisi XXIVol. 2. Jakarta : EGC
Dewi, Y. et.al. 2007. Operasi Caesar : Pengantar dari A sampai Z. Jakarta : EDSA Mahkota.
Doenges, M.E. 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi: Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Dokumentasi Perawatan Klien Edisi 2. Jakarta : EGC
Gibson, John, MD. 2000. Anatomi dan Fisiologi Modern. Jakarta : EGC
Jitowiyo, Sugeng & Kristiyanasari, Weni. 2010. Asuhan Keperawatan Post Operasi. Yogyakarta : Nuha Medika.
Joy, Saju et al. 2011. Cesarean Delivery. LLC: Medscape
Kasdu. D., 2003, Operasi Caesar ; Masalah dan Solusinya, Cetakan Pertama, Puspa Swara, Jakarta.
Manuaba, I. B. G. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC.
Moctar, R., 2013, Sinopsis Obstetri Edisi 3. Jakarta: EGC
Oxorn, Harry dan Forte William. 2010. Ilmu Kebidanan: Patologi & Fisiologi Persalinan. Yogyakarta : YEM
Pearce, Evelin C. 2009. .Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal . Jakarta: YBP-SP
Sarwono, Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Setyowati, Y., Supartini (2012) Karakteristik yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini pada Ibu Nifas Post Sectio Caesaria (Di Ruang Merpati RSUD Dr. Soetomo Surabaya).Hal 12
Tanjung, M. T. 2004. Preeklampsia Studi tentang Hubungannya dengan Faktor Fibrinolisis Ibu dan Gas Darah Tali Pusat Ed. 1. Medan : Pustaka Bangsa Press
Towle, Marry Ann & Adams, Ellise D. 2008. Maternal-Child Nursing Care. New Jersey: Pearson Education.
Wiknojosastro, S. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.Wirakusumah, F. 1994. Evaluasi Resiko SC : Suatu Studi di Dua RS Pendidikan, RS Hasan Sadikin Bandung dan RS Pendidikan Lerden. Journal Medical Bandung.
Wylie, Linda.2011 Esensial Anatomi & Fisiologi dalam Asuhan Maternitas. Jakarta : EGC






Demikianlah Artikel Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap

Sekianlah artikel Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Tatalaksana Pasien Post Sectio Caesarea Lengkap dengan alamat link https://askep-nursing.blogspot.com/2018/04/tatalaksana-pada-pasien-post-sectio.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar