Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM

Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM - Hallo sahabat askep, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Perawat, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM
link : Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM

Baca juga


Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM

SATUAN ACARA PENYULUHAN
PENDIDIKAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT ........ RUANG ......... UNTUK  MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENTANG EXERCISE PADA PASIEN DIABETES MELITUS (DM)

Sasaran          : Pasien Ruang ...... Rumah Sakit .......
Hari/Tanggal : Rabu, 17 Desember 2014
Tempat           : Ruang . Rumah .......
Waktu            : Pukul 10.30 - 11.00 WIB (30 menit)
Pelaksana      : Mahasiswa Keperawatan Universitas .....
                                                                
  1. Tujuan
  1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat penyuluhan selama 30 menit, pasien DM (Diabetes Melitus) Ruang ... Rumah Sakit ..... dapat menambah pengetahuan tentang exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus) secara mandiri
  1. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapat penyuluhan kesehatan mengenai exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus), pasien Ruang Pandanwangi Rumah Sakit DR. Soetomo dapat:
  1. Mengetahui Definisi dari DM dan exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)
  2. Mengetahui etiologi dan klasifikasi dari DM (Diabetes Melitus)
  3. Mengetahui manifestasi dan patofisiologi dari DM (Diabetes Melitus)
  4. Mengetahui penatalaksanaan terhadap DM (Diabetes Melitus)
  5. Mengetahui bentuk exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)
  6. Mengetahui manfaat/guna exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)

  1. Sasaran
Pasien Ruang ......... Rumah Sakit .....
  1. Materi
Konsep pemahaman Health Education tentang exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)
  1. Metode
  1. Ceramah
  2. Tanya jawab
  1. Media
  1. Flip Chart / Power Point
  2. Leaflet
  1. Setting Tempat
Peserta penyuluhan duduk berhadapan dengan tim penyuluhan


                          
  1. Pengorganisasian
  1. Pembimbing Akademik          :  Bapak/Ibu ..........
  2. Pembimbing Klinik                 : Bapak/Ibu ..........
  3. Penyaji                                  : Ners .......
  4. Moderator                            : Ners .......
  5. Fasilitator                              : Ners .......
                                                       
                                                      
  1. Observer                              : Ners .......
  2. Peserta                                 : Pasien Ruang ....... Rumah Sakit .......

  1. Job Description
No.Nama SieJob Description
1.Penyaji
  1. Menyampaikan materi penyuluhan
  2. Menggali pengetahuan peserta tentang materi yang akan disampaikan
  3. Menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh peserta
2.Moderator
  1. Memandu jalannya penyuluhan dan sesi tanya jawab
  2. Membuka acara dan menyampaikan maksud serta tujuan kegiatan penyuluhan
  3. Menjelaskan kontrak waktu dan mekanisme kegiatan
  4. Melakukan evaluasi hasil tentang materi yang telah disampaikan
  5. Menutup acara penyuluhan
3.Fasilitator
  1. Sebagai operator presentasi (meng-handle PPT)
  2. Membantu dan mengondisikan peserta selama penyuluhan berlangsung
  3. Meminta tanda tangan peserta yang hadir (absensi)
  4. Membantu moderator dalam mengajukan pertanyaan untuk evaluasi hasil
  5. Memfasilitasi peserta untuk aktif bertanya
4.Observer
  1. Menilai keaktivan peserta
  2. Melakukan evaluasi kegiatan


  1. Pelaksanaan
No
Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
1.3 MenitPembukaan:
  1. Mengucapkan salam
  2. Memperkenalkan diri
  3. Menjelaskan kontrak waktu
  4. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
  5. Menyebutkan materi penyuluhan yang akan diberikan

  1. Menjawab salam
  2. Mengenal tim penyuluh
  3. Mengetahui kontrak waktu penyuluhan
  4. Mengerti tujuan dari penyuluhan
  5. Tahu apa saja yang akan disampaikan
2.15 Menit

Pelaksanaan:
  1. Menggali pengetahuan pengunjung tentang materi exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)
  2. Menjelaskan kepada pengunjung :
  1. Mengetahui Definisi dari DM dan exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)
  2. Mengetahui etiologi dan klasifikasi dari DM (Diabetes Melitus)
  3. Mengetahui manifestasi dan patofisiologi dari DM (Diabetes Melitus)
  4. Mengetahui penatalaksanaan terhadap DM (Diabetes Melitus)
  5. Mengetahui bentuk exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)
  6. Mengetahui manfaat/guna exercise atau latihan fisik untuk pasien DM (Diabetes Melitus)

  1. Mendengarkan dan
memperhatikan materi

3.10 menitDiskusi/ Tanya jawab dan evaluasi:
  1. Memberikan kesempatan pada peserta untuk bertanya kemudian didiskusikan bersama
  2. Menanyakan kepada peserta tentang materi yang telah diberikan dan melakukan redemonstrasi
  3. Memberikan reinforcement kepada peserta  bila dapat menjawab dan menjelaskan kembali pertanyaan/ materi

  1. Mengajukan pertanyaan
  2. Menanggapi jawaban
  3. Menjawab pertanyaan
42 MenitTerminasi:
  1. Mengucapkan terima kasih kepada peserta
  2. Memberikan leaflet
  3. Mengucapkan salam penutup

  1. Mendengarkan dan
membalas salam

  1. Evaluasi
  1. Kriteria struktur
  1. Kontrak waktu dan tempat diberikan 1 hari sebelum acara dilaksanakan
  2. Pembuatan SAP, leaflet, dan PPT dikerjakan maksimal 2 hari sebelumnya
  3. Penentuan tempat yang akan digunakan dalam penyuluhan
  4. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan saat penyuluhan dilaksanakan
  1. Kriteria proses
  1. Peserta sangat antusias dan aktif bertanya selama materi penyuluhan berlangsung
  2. Peserta mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan dari awal sampai akhir
  3. Pelaksanaan kegiatan sesuai SAP yang telah dibuat
  4. Pengorganisasian berjalan sesuai dengan job description
  1. Kriteria hasil
  1. Peserta yang datang dalam penyuluhan ini minimal 15 orang
  2. Peserta dapat mengikuti acara penyuluhan dari awal sampai akhir
  3. Acara dimulai tepat waktu tanpa kendala
  4. Peserta mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah dijelaskan
  5. Peserta terbukti memahami materi yang telah disampaikan penyuluh dilihat dari kemampuan menjawab pertanyaan penyuluh dengan benar


MATERI PENYULUHAN

  1. Definisi Diabetes Melitus
Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat tubuh mengalami gangguan dalam mengontrol kadar gula darah (Sri Anani, 2012).

Diabetes melitus atau yang lebih dikenal dengan penyakit gula atau kencing manis diakibatkan oleh kekurangan hormon insulin. Hal ini disebabkan oleh pankreas sebagai produsen insulin tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup besar daripada yang dibutuhkan oleh tubuh, sehingga pembakaran dan penggunaan karbohidrat tidak sempurna (Tjokroprawiro, 1986 dalam Studiawan & Santoso, 2005).

Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbihidrat (Price, 2005).
Diabetes melitus adalah sindrom yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan dan suplai insulin. Sindrom ini ditandai dengan hiperglikemia dan berkaitan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein (Rumaharbo, 1999).

  1. Etiologi Diabetes Melitus
Etiologi DM tipe 1 diakibatkan oleh kerusakan sel beta pankreas karena paparan agen infeksi atau lingkungan, yaitu racun, virus (rubella kongenital, mumps, coxsackievirus dan cytomegalovirus) dan makanan (gula, kopi, kedelai, gandum dan susu sapi)  (O'Connell, Donath, & Cameron, 2007 dalam Homenta, 2012).

Jika dirunut lebih mendalam, ada beberapa faktor yang menyebabkan diabetes mellitus, yaitu sebgai berikut:
  1. Genetik atau Faktor Keturunan
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri, tapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (human leucocyte antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya. Sembilan puluh lima persen pasien berkulit putih (caucasian) dengan diabetes tipe I memperlihatkan tipe HLA yang spesifik (DR3 atau DR4).

Risiko terjadinya diabetes tipe I meningkat tiga hingga lima kali lipat pada individu yang memiliki salah satu dari kedua tipe HLA ini. Risiko tersebut meningkat sampai 10 hingga 20 kali lipat pada individu yang memiliki tipe HLA DR3 maupun DR4 (jika dibandingkan dengan populasi umum).
  1. Virus dan Bakteri
Virus yang diduga menyebabkan diabetes mellitus adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4. Hasil penelitian menyebutkan bahwa virus dapat menyebabkan diabetes mellitus melalui mekanisme infeksi sitolitik pada sel beta yang mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Selain itu, melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun pada sel beta.
  1. Bahan toksik atau beracun
Ada beberapa bahan toksik yang mampu merusak sel beta secara langsung, yakni alloxan, pyrinuron (rodentisida), dan streptozotocin (produksi jenis jamur). Bahan toksik lain berasal dari cassava atau singkong. Singkong merupakan tanaman yang banyak tumbuh didaerah tropik, merupakan sumber kalori utama penduduk kawasan tertentu. Singkong mengandung glikosida sianogenik yang dapat melepaskan sianida sehingga memberi efek toksik terhadap jaringan tubuh.
  1. Nutrisi
Diabetes mellitus dikenal sebagai penyakit yang berhubungan dengan nutrisi, baik sebagai faktor penyebab maupun pengobatan. Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) merupakan faktor resiko pertama yang diketahui menyebabkan diabetes mellitus. Semakin lama dan berat obesitas akibat nutrisi yang berlebihan, semakin besar kemungkinan terjangitnya diabetes mellitus.
  1. Autoimun
Disebabkan kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Respon ini merupakan proses abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Autoantibodi terhadap sel-sel pulau langerhans dan insulin endogen (internal) terdeteksi pada saat diagnosis dan bahkan beberapa tahun sebelum timbulnya tanda-tanda klinis diabetes tipe I yang baru terdiagnosis atau pada pasien pradiabetes (pasien dengan antibodi yang terdeteksi tetapi tidak memperlihatkan gejala klinis diabetes). Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu pula oleh adanya infeksi pada tubuh. Ditemukan beberapa petanda imun (immune markers) yang menunjukkan pengrusakan sel beta pankreas untuk mendeteksi kerusakan sel beta, seperti "islet cell autoantibodies (ICAs), autoantibodies to insulin (IAAs), autoantibodies to glutamic acid decarboxylase (GAD). )", dan antibodies to tyrosine phosphatase IA-2 and IA-2.
  1. Faktor lingkungan
Penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel beta. Sebagai contoh hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan detruksi sel beta.

Interaksi antara faktor-faktor genetik, imunologi dan lingkungan dalam etiologi diabetes tipe I merupakan pokok perhatian riset yang terus berlanjut. Meskipun kejadian yang menimbulkan destruksi sel beta tidak dimengerti sepenuhnya, namun pernyataan bahwa kerentanan genetik merupakan faktor dasar yang melandasi proses terjadinya diabetes tipe I merupakan hal secara umum dapat diterima
  1. Idiopatik
Sebagian kecil diabetes melitus tipe 1 penyebabnya tidak jelas (idiopatik).
Penyebab-penyebab tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya  Diabetes melitus tipe 2 menurut Guyton & Hall (2002), yaitu :
  1. Usia
Insiden terjadinya DM tipe 2 biasanya muncul pada penderita yang di atas 40 tahun (Kimble et. al., 2009). Hal itu bisa terjadi karena seiring bertambahnya usia dapat terjadi penurunan fungsi organ tubuh, termasuk pengangkutan glukosa ke jaringan. Reseptor ini akan menjadi tidak peka terhadap adanya glukosa dalam darah sehingga yang terjadi adalah peningkatan kadar glukosa dalam darah. (RG et. al., 2000)
  1. Obesitas
Obesitas mengakibatkan sel-sel beta pankreas mengalami hipertropi yang akan berpengaruh pada penurunan hormon insulin. Jika nilai Body Mass Index (BMI) ≥ 25 kg/m2 yang masuk kategori overweight-obesitas maka akan meningkatan risiko berkembangnya resistensi insulin dan DM Tipe 2. Pada orang dengan berat badan berlebih jaringan adiposa akan melepaskan sejumlah asam lemak non-esterifikasi, gliserol, hormon, sitokin pro inflamasi, dan faktor lain yang mendukung perkembangan resistensi insulin. Ketika resistensi insulin disertai dengan disfungsi sel beta, maka akan terjadi penurunan sekresi insulin sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah (Kahn et.al., 2006). Obesitas ditemukan di kira-kira 85% dari penderita yang didiagnosis menderita Diabetes melitus tipe 2 ( Black & Hwaks, 2009).
  1. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga juga termasuk faktor predisposisi pada Diabates melitus tipe 2, dimana hal ini dihubungkan dengan peran utama sifat herediter (Black & Hwaks, 2009). Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes. Ini terjadi karena DNA pada orang diabetes melitus akan ikut diinformasikan pada gen berikutnya terkait dengan penurunan produksi insulin.
  1. Gejala Klinis Diabetes Melitus
Gejala klasik penyakit diabetes mellitus dikenal dengan istilah trio-P, yaitu meliputi Poliuria (banyak kencing), Polidipsi (banyak minum), dan Polipagia (banyak makan) (Dr. Endang, 2011).
  1. Poliuria (banyak kencing) merupakan gejala umum pada penderita diabetes mellitus. Banyaknya kencing ini disebabkan kadar gula dalam darah berlebihan sehingga merangsang tubuh untuk berusaha mengeluarkannya melalui ginjal bersama air dan kencing. Gejala banyak kencing ini terutama menonjol pada waktu malam hari, yaitu saat kadar gula dalam darah relative tinggi.
  2. Polidipsia (banyak minum), sebenarnya merupakan akibat (reaksi tubuh) dari banyak kencing tersebut. Untuk menghindari tubuh kekurangan cairan (dehidrasi), maka secara otomatis akan timbul rasa haus yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk terus minum selama kadar gula dalam darah belum terkontrol baik. Sehingga akan terjadi banyak kencing dan banyak minum.
  3. Polipagia (banyak makan), merupakan gejala yang tidak menonjol. Terjadinya banyak makan ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan gula dalam tubuh meskipun kadar gula dalam darah tinggi. Sehingga dengan demikian tubuh berusaha memperoleh tambahan cadangan gula dari makanan yang diterima.
Gejala-gejala lain yang biasanya tampak pada penderita diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
  1. Timbulnya rasa letih yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
  2. Timbulnya rasa gatal dan peradangan kulit yang menahun.
  3. Terjadinya penurunan berat badan.
  4. Timbulnya rasa kesemutan (mati rasa) atau sakit pada tangan atau kaki.
  5. Timbulnya borok (luka) pada kaki yang tak kunjung sembuh.
  6. Hilangnya kesadaran diri.
Dipertegas oleh sumber lainnya, Soegondo dkk mengemukakan bahwa gejala klasik diabetes adalah rasa haus yang berlebihan sehingga sering kencing terutama pada malam hari. Penderita juga akan banyak makan dan berat badan turun dengan cepat. Di samping itu terkadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat lapar, gatal-gatal, penglihatan menjadi kabur, gairah seks menurun, luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas 4 kg. Kadang-kadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya keluhan, mereka mengetahui adanya diabetes karena pada saat periksa kesehatan ditemukan kadar glukosanya darahnya tinggi.
  1. Prinsip Olahraga Bagi Diabetes Melitus
Prinsip olahraga pada penderita diabetes sama saja dengan prinsip olahraga secara umum, yaitu memenuhi hal berikut ini yaitu: frekuensi, intensitas, time (durasi) dan tipe (jenis).

Pada diabetes, olahraga yang dipilih sebaiknya olahraga yang disenangi, dan yang mungkin untuk dilakukan oleh penderita diabetes. Olahraga yang dilakukan hendaknya melibatkan otot-otot besar dan sesuai dengan keinginan agar manfaat olahraga dapat dirasakan secara terus menerus. Olahraga sebaiknya dilakukan secara teratur dan dilakukan pada saat yang dirasa menyenangkan. Pada diabetes melitus tipe 1, olahraga lebih baik dilakukan pada pagi hari, dan hindari berolahraga pada malam hari. Secara ringkas olahraga pada penderita diabetes perlu diperhatikan FITT yaitu :
Frekuensi         : jumlah olahraga per minggu. Sebaiknya dilakukan secara teratur 3-5 kali per minggu.
Intensitas          : ringan dan sedang yaitu 60-70 % dari MHR (Maximum Heart Rate)
Time (Durasi)  : 30-60 menit
Tipe (Jenis)      : olahraga endurans (aerobik) untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi seperti jalan, jogging, berenang dan bersepeda.

Hal yang perlu diperhatikan setiap kali melakukan olahraga adalah tahap-tahap berikut ini :
  1. Pemanasan (warm up)
Kegiatan ini dilakukan sebelum melakukan latihan inti dengan tujuan untuk mempersiapkan berbagai sistem sebelum memasuki latihan yang sebenarnya, seperti menaikkan suhu tubuh, meningkatkan denyut nadi secara bertahap, tidak meningkat secara mendadak. Selain itu pemanasan perlu untuk mengurangi kemungkinan terjadinya cedera akibat berolahraga. Lama pemanasan cukup 5- 10 menit.
  1. Latihan Inti (conditioning)
Pada tahap ini diharapkan denyut nadi mencapai THR agar latihan benar-benar bermanfaat. Bila THR tidak tercapai maka latihan tidak akan bermanfaat, bila melebihi THR maka dapat menimbulkan risiko yang tidak diinginkan.
  1. Pendinginan (cooling down)
Sebaiknya setelah selesai melakukan olahraga dilakukan pendinginan untuk mencegah terjadinya penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot sesudah berolahraga atau pusing-pusing karena darah masih terkumpul pada otot yang aktif. Bila olahraga yang dilakukan adalah jogging maka pendinginan sebaiknya tetap jalan selama beberapa menit. Bila bersepada, tetap mengayuh sepeda tanpa beban. Lama pendinginan sebaiknya 5 – 10 menit, hingga denyut nadi menndekati denyut nadi istirahat.
  1. Peregangan (Stretching)
Hal ini dilakukan untuk melemaskan dan melenturkan otot-otot yang masih teregang dan lebih elastis. Komponen ini penting bagi diabetisi usia lanjut.

Bagi deabatisi yang sebelumnya tidak pernah atau jarang berolahraga sebaiknya mulai secara bertahap, perlahan dan setelah merasa tidak berat bisa ditingkatkan baik intensitas maupun durasinya. Misalnya mulai dengan jalan 5 menit lalu 1 – 2 minggu kemudian tambahkan lagi 5 menit demikian selanjutnya sampai dengan yang dianjurkan 30 – 60 menit, 3 – 5 kali per minggu. Bahkan dapat dilakukan 10 menit dibagi 2 – 3 kali sehari atau 15 menit, 2 kali sehari.
Pada saat diabetisi akan mengikuti suatu kegiatan olahraga sebaiknya dilakukan pemeriksaan kesehatan (medis) dan faal (kebugaran) terlebih dahulu untuk menentukan tingkat kebugaran serta kondisi metabolik dari diabetisi. Hal ini merupakan hal yang paling penting diketahui sebelum diketahui sebelum dokter atau edukator membuat suatu program latihan bagi diabetisi.
Dengan demikian saat merencanakan program latihan atau olahraga bagi penderita diabetes, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan, yaitu:
  1. Ketahui kontraindikasi dan keterbatasan diabetisi
  2. Harus realistik sebab diabetisi akan melakukan olahraga secara teratur apabila diabetisi merasakan manfaat dan menyenanginya.
  3. Peningkatan intensitas dan durasi dilakukan secara secara bertahap.
  4. Ingatkan risiko terjadinya hipoglikemi
  5. Ingatkan bahwa olahraga atau beraktifitas fisik apa saja lebih baik daripada tidak melakukan sama sekali.
Mardi Santoso (2008: XVI) menyatakan bahwa olahraga yang dianjurkan untuk penderita DM adalah aerobic low impact dan rithmis, misalnya berenang, jogging, naik sepeda, dan senam disco, sedangkan latihan resisten statis tidak dianjurkan (misalnya olahraga beban angkat besi dan lain-lain. Tujuan latihan adalah untuk meningkatkan kesegaran jasmani atau nilai aerobik optimal.

Adapun petunjuk olahraga menurut Mardi Santoso (2008: XVI-XXII) adalah sebagai berikut:
  1. Program latihan
Program latihan yang dianjurkan bagi penderita DM untuk meningkatkan kesegaran jasmani adalah CRIPE, karena program ini dianggap memenuhi kebutuhan.
CRIPE adalah kepanjangan dari:
  1. Continuous, artinya latihan jasmani terus menerus tidak berhenti dapat menurunkan intensitas, kemudian aktif lagi dan seterusnya intensitas dikurangi lagi. Aktif lagi dan seterusnya, melakukan aktivitas latihan terus-menerus selama 50-60 menit.
  2. Rhytmical, artinya latihan harus dilakukan berirama, melakukan latihan otot kontraksi dan relaksasi. Jadi gerakan berirama tersebut diatur dan terus menerus.
  3. Interval, artinya latihan dilaksanakan terselang-seling, kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat tetapi kontinyu selama periode latihan.
  4. Progresif, artinya latihan harus dilakukan peningkatan secara bertahap dan beban latihan juga ditingkatkan secara perlahan-lahan.
  5. Endurance, artinya latihan untuk meningkatkan kesegaran dan ketahanan sistem kardiovaskuler dan kebutuhan tubuh penderita DM.
     
    1. Porsi Latihan
    Porsi latihan harus ditentukan supaya maksud dan tujuan latihan oleh merugikan kesehatan, sedangkan latihan yang terlalu sedikit tidak begitu bermanfaat. Penentuan porsi latihan harus memperhatikan intensitas latihan, lama latihan, dan frekuensi latihan
    1. Intensitas latihan
    Untuk mencapai kesegaran kardiovaskuler yang optimal, maka idealnya latihan berada pada VO2 max, berkisar antara 50 - 85 % ternyata tidak memperburuk komplikasi DM dan tidak menaikkan tekanan darah sampai 180 mmHg. Intensitas latihan dapat dinilai dengan:
    1. Target nadi/area latihan.
    Penderita dapat menghitung denyut nadi maksimal yang harus dicapai selama latihan. Meskipun perhitungan ini agak kasar tapi dapat digunakan rumus denyut nadi maksimal = 220 – umur penderita. Denyut nadi yang harus dicapai antara 60 - 79 % adalah target nadi/zone latihan yang diperbolehkan. Bila lebih dari 79 %, maka dapat membahayakan kesehatan penderita, apabila nadi tidak mencapai target atau kurang dari 60 % kurang bermanfaat. Area latihan adalah interval nadi yang ditargetkan dicapai selama latihan/segera setelah latihan maksimum, yaitu antara 60 sampai 79 % dari denyut nadi maksimal. Sebagai contoh penderita DM tidak tergantung insulin umur 40 tahun, interval nadi yang diperbolehkan adalah 60 % kali (220 – 40) dan 79 % kali (220 - 40) dan hasilnya interval nadi antara 108 sampai dengan 142 permenit. Jadi area latihan antara 108 – 142 denyut nadi permenit.
    1. Kadar gula darah
    Sesudah latihan jasmani kadar gula darah 140 – 180 mg% pada usia lanjut dianggap cukup baik, sedang usia muda sampai 140 mg%.
    1. Tekanan darah sebelum dan sesudah latihan
    Sebelum latihan tekanan tidak melebihi 140 mmHg dan setelah latihan maksimal tidak lebih dari 180 mmHg.
    1. Lama latihan
    Untuk mencapai efek metabolik, maka latihan inti berkisar antara 30-40 menit dengan pemanasan dan pendinginan masing-masing 5 - 10 menit. Bila kurang, maka efek metabolik sangat rendah, sebaliknya bila berlebihan menimbulkan efek buruk terhadap sistem muskuloskeletal dan kardiovaskuler serta sistem respirasi.
    1. Frekuensi
    Frekuensi olahraga berkaitan erat dengan intensitas dan lamanya berolahraga, Menurut hasil penelitian, ternyata yang paling baik adalah 5 kali seminggu. Tiga kali seminngu sudah cukup baik, dengan catatan lama latihan harus diperpanjang 5 sampai 10 menit lagi. Jangan sampai 7 kali seminggu, karena tidak ada hari untuk istirahat, lagipula kurang baik untuk metabolisme tubuh (Arcole Margatan, 1995: 103).
    1. Latihan Kaki
    Untuk mencegah atau menghambat dan memperbaiki neuropati perifer pada umumnya dan pada orang tua yang sudah menderita osteoartrosis dan neuropati, maka latihan kaki harus lebih intensif. Tujuan latihan kaki adalah untuk memperbaiki sirkulasi darah tungkai bawah pergelangan kaki, telapak kaki dan jari-jari. Latihan kaki sebaiknya dilakukan sebelum latihan jasmani sebenarnya (jalan, jogging dan sebagainya) atau diluar hari-hari latihan dan dapat dilakukan dimana saja.

    Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum latihan menurut (Arcole Margatan, 1995: 100) adalah sebagai berikut:
    1. Berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang menangani DM anda.
    2. Sesuaikan obat-obat yang anda pakai dengan latihan-latihan olahraganya.
    3. Kalau perlu, masukkan karbohidrat bisa ditambah.
    4. Bila anda berlatih dengan seorang instruktur, katakan kepada pelatih anda itu bahwa anda adalah seorang penderita DM.
    5. Bawalah serta coklat yang dapat segera digunakan, seandainya terjadi hipoglikemi untuk menanggulanginya.
    6. Sebaiknya berlatih bersama teman yang sewaktu-waktu bisa menolong anda apabila terjadi hal-hal yang tak terduga.
    Beberapa Catatan dalam berolahraga untuk penderita DM:
    1. Memakai pakaian olahraga, kaos kaki yang nyaman dan biasanya dari katun cukup baik.
    2. Hindarkan latihan di udara terlalu panas atau terlalu dingin.
    3. Pada keadaan gula sangat tinggi sebaiknya latihan dihindarkan.
    4. Minum harus cukup pada saat dan sesudah olahraga.
    5. Kaki harus diperhatikan setiap selesai latihan, observasi kemungkinan terjadinya luka atau lecet.
    6. Penderita yang mendapat terapi insulin dan obat penurun gula darah (OHO) sebaiknya pasien diperiksa gula darah sebelum, selama, dan sesudah latihan, terutama pasien DM tipe I dan DM tipe II yang mendapat insulin.
    Di bawah ini adalah beberapa contoh gerakan yang dapat dilakukan ketika melakukan olahraga bagi penderita diabetes :




    1. Manfaat Olahraga bagi Penderita Diabetes Mellitus
    Mardi Santoso (2008: XII-XIII) menyatakan bahwa olahraga secara umum bermanfaat bagi penderita DM, manfaat tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Mengontrol gula darah, terutama pada DM tipe II, sedangkan bagi DM tipe I masih merupakan problematik.
    2. Menghambat dan memperbaiki faktor resiko penyakit kardiovaskuler yang banyak terjadi pada penderita DM.
    3. Menurunkan berat badan.
    4. Memperbaiki gejala-gejala muskuloskeletal otot, tulang sendi, yaitu gejala-gejala neuropati perifer dan osteoartrosis.
    5. Memberikan keuntungan psikologis.
    6. Mencegah terjadinya DM yang dini, terutama bagi orang-orang dengan riwayat keluarga DM tipe II dan diabetes kehamilan atau predicable test.
    7. Mengurangi kebutuhan pemakaian obat oral dan insulin.



    DAFTAR PUSTAKA

    ADA. 2009. Standar of Medical Care in Diabetes 2010. Journal of Diabetes Care, Vol. 33, Suplement 1, Januari 2010, 11-61 diperoleh dari http://care.diabetesjournal.org/, pada tanggal 13 Maret 2014.  
    Anani, S.,  Ari Udoyono, & Praba Ginanjar. 2012. Hubungan antara Perliaku Pengendalian Diabetes dan Kadar Glukosa Darah Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 466–478. Diakses dari Website: www.ejournals1.undip.ac.id
    DiPiro et. al. 2008. Etiologi dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. Diakses pada tanggal 12 Maret 2014 dari  website : www.academia.edu.
    Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan : definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.
    Homenta, Heriyannis. 2012. Diabetes Melitus Tipe 1. Karya Tulis Biokimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
    Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi Keenam Volume 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
    Soegondo,dkk. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.










    DAFTAR HADIR PESERTA
    PENDIDIKAN KESEHATAN DI RUANG ..... RS ...... A UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENTANG EXERCISE PADA PASIEN DIABETES MELITUS

    No.
    NAMA
    ALAMAT
    TTD
    1.


    1.
    2.


    2.
    3.


    3.
    4.


    4.
    5.


    5.
    6.


    6.
    7.


    7.
    8.


    8.
    9.


    9.
    10.


    10.
    11.


    11.
    12.


    12.
    13.


    13.
    14.


    14.
    15.


    15.
    16.


    16.
    17


    17.
    18.


    18.
    19.


    19.
    20.


    20.
    21.


    21.
    22.


    22.
    23.


    23.
    24.


    24.
    25.


    25.

    DAFTAR PERTANYAAN PESERTA
    PENDIDIKAN KESEHATAN DI RUANG ....... RS ........  UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENTANG EXERCISE PADA PASIEN DIABETES MELITUS

    No.
    NAMA
    PERTANYAAN
    JAWABAN








    Demikianlah Artikel Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM

    Sekianlah artikel Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

    Anda sekarang membaca artikel Satuan Acara Penyuluhan tentang Exercise pada Pasien DM dengan alamat link https://askep-nursing.blogspot.com/2014/12/satuan-acara-penyuluhan-tentang.html

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar