Rindu Kampung Halaman

Rindu Kampung Halaman - Hallo sahabat askep, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Rindu Kampung Halaman, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Cuap-cuap, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Rindu Kampung Halaman
link : Rindu Kampung Halaman

Baca juga


Rindu Kampung Halaman



Assalamualaikum wr.wb,
Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi ataupun pekerjaan, banyak hal yang membuat seseorang harus marantau ke kota atau tempat lain yang nun jauh dari kampung halaman. Saat sudah tinggal di kota, seringkali ada perasaan rindu dengan kampung halaman. saya termasuk seseorang yang pernah merasakan hal tersebut. Ada banyak hal yang tidak dijumpai dan rasakan lagi saat sudah tinggal di kota. Hal itu yang membuat perasaan rindu dan kangen untuk kembali ke kampung halaman. Berikut beberapa hal yang membuat saya rindu kampung halaman saya di desa:
1. Suara adzan 

Adzan di kota berbeda dengan Suara adzan di masjid kampung khususnya kampung halaman saya. Bukan karena suara merdu muadzinnya, tapi karena suasananya. Di kampung, biasanya saya shalat di masjid atau mushollah. Letaknya dekat dengan sungai dan sawah. Yang membuat saya kangen adalah suasana saat adzan maghrib. Dimana saat maghrib, suara muadzin seolah diiringi orchestra dari katak di sawah yang bersautan bagai simfoni. 

Masjid Desa


Suara "pujian" seusai adzan yang biasanya diisi dengan shalawat badar dan lagu tombo ati ditirukan anak-anak kecil sepanjang perjalanan. Penduduk kampung yang sudah pulang ke rumah dari bekerja, berjalan bersama-sama ke masjid. Langit berwarna ungu dan jingga, dengan sinar lampu jalan yang remang-remang. Dan tentu saja masih tetap diiringi suara katak sawah dan riuh liri aliran sungai di saluran irigasi, rasanya begitu syahdu dan tentram.


 2. Sungai yang masih asri

Sungai di kampung saya bisa dibilang masih asri dan alami dengan pencemaran yang minimal. Disana masih banyak anggang-anggang kalau orang jawa bilang. Konon biota air ini jadi tanda bahwa tingkat pencemaran air sungah masih sangat minimal. Karena anggang-anggang tidak bisa hidup di air yang banyak tercemari limbah. Dengan air yang masih baik ini, penduduk memanfaatkannya sebagai tempat mandi, dan mencuci. Saya termasuk orang yang juga suka mandi di sungai, karena airnya segar, dan terus mengalir. Mandi dengan senandung suara jangkrik, burung dan kumbang, membuat saya betah lama-lama di sungai. 

Saya juga punya hobi mancing. Di kota, untuk memancing harus cari tambak atau kolam pancing dulu, kemudian sewa alat pancing, beli umpan, dan nanti kalau dapat ikan pun harus bayar. Di kampung, air sungai masih banyak ikannya. Meskipun hanya sebangsa ikan gatul, lele, nila, atau ikan uceng bukan ikan gurame atau ikan mas tapi itu sudah cukup memuaskan dan menyenangkan. Mancing dengan joran dari bambu yang kadang patah di tarik ikan, kail yang sering nyangkut di semak-semak, umpan cacing atau sumpil dari sawah, semuanya terasa sederhana tapi membuat hati bahagia. Kalau dapat ikan bisa langsung dibakar dengan ranting pohon atau jerami kering di sawah, atau dibawa pulang untuk dimasak ibu atau dipelihara. Ah betapa indahnya…


3. Sawah yang hijau

Di kota mungkin kita masih dapat menjumpai sawah tapi tentu berbeda dengan di kampung. Di kampung sawah menghampar luas sejauh mata memandang, tidak ada gedung yang memagari. Saya suka main di sawah. Dulu, saya punya kelinci namanya si putih. Tiap hari saya harus carikan rumput. Selain rumput, disana ada banyak kangkung, dan bayam liar. Si putih paling suka makan kangkung dan bayam. Kenangan saat mencari rumput di tengah sawah yang hijau, dengan panorama langit biru dan gunung, angin sepoi yang membelai, tak akan pernah tergantikan. 

 
sawah
Selesai cari rumput, saya biasanya singgah sebentar di gubug tangah sawah, nimbrung dengan para petani yang merebahkan badannya setelah mencangkul, dengan diiringi lagu dangdut era 90an dari radio, kadang kalau beruntung, saya disuguhi dengan teh hangat dan singkong rebus. Hal semacam ini sangat sulit dijumpai di kota bukan?


Nah itulah beberapa hal yang membuat saya rindu kampung halaman saya di desa. Masih ada banyak hal unik tentang kampung halaman yang ingin saya ceritakan kepada pembaca yang budiman, tetapi karena postingan ini sudah terlalu panjang, maka akan saya buat postingan yang kedua sebagai kelanjutan postingan ini. Jangan bosan mengunjungi blog ini ya, semoga bermanfaat dan terima kasih.








Assalamualaikum wr.wb,
Pembaca yang budiman, mungkin di antara kita banyak yang sedang atau pernah menyandang status sebagai perantau kota besar. Entah karena studi ataupun pekerjaan, banyak hal yang membuat seseorang harus marantau ke kota atau tempat lain yang nun jauh dari kampung halaman. Saat sudah tinggal di kota, seringkali ada perasaan rindu dengan kampung halaman. saya termasuk seseorang yang pernah merasakan hal tersebut. Ada banyak hal yang tidak dijumpai dan rasakan lagi saat sudah tinggal di kota. Hal itu yang membuat perasaan rindu dan kangen untuk kembali ke kampung halaman. Berikut beberapa hal yang membuat saya rindu kampung halaman saya di desa:
1. Suara adzan 

Adzan di kota berbeda dengan Suara adzan di masjid kampung khususnya kampung halaman saya. Bukan karena suara merdu muadzinnya, tapi karena suasananya. Di kampung, biasanya saya shalat di masjid atau mushollah. Letaknya dekat dengan sungai dan sawah. Yang membuat saya kangen adalah suasana saat adzan maghrib. Dimana saat maghrib, suara muadzin seolah diiringi orchestra dari katak di sawah yang bersautan bagai simfoni. 

Masjid Desa


Suara "pujian" seusai adzan yang biasanya diisi dengan shalawat badar dan lagu tombo ati ditirukan anak-anak kecil sepanjang perjalanan. Penduduk kampung yang sudah pulang ke rumah dari bekerja, berjalan bersama-sama ke masjid. Langit berwarna ungu dan jingga, dengan sinar lampu jalan yang remang-remang. Dan tentu saja masih tetap diiringi suara katak sawah dan riuh liri aliran sungai di saluran irigasi, rasanya begitu syahdu dan tentram.


 2. Sungai yang masih asri

Sungai di kampung saya bisa dibilang masih asri dan alami dengan pencemaran yang minimal. Disana masih banyak anggang-anggang kalau orang jawa bilang. Konon biota air ini jadi tanda bahwa tingkat pencemaran air sungah masih sangat minimal. Karena anggang-anggang tidak bisa hidup di air yang banyak tercemari limbah. Dengan air yang masih baik ini, penduduk memanfaatkannya sebagai tempat mandi, dan mencuci. Saya termasuk orang yang juga suka mandi di sungai, karena airnya segar, dan terus mengalir. Mandi dengan senandung suara jangkrik, burung dan kumbang, membuat saya betah lama-lama di sungai. 

Saya juga punya hobi mancing. Di kota, untuk memancing harus cari tambak atau kolam pancing dulu, kemudian sewa alat pancing, beli umpan, dan nanti kalau dapat ikan pun harus bayar. Di kampung, air sungai masih banyak ikannya. Meskipun hanya sebangsa ikan gatul, lele, nila, atau ikan uceng bukan ikan gurame atau ikan mas tapi itu sudah cukup memuaskan dan menyenangkan. Mancing dengan joran dari bambu yang kadang patah di tarik ikan, kail yang sering nyangkut di semak-semak, umpan cacing atau sumpil dari sawah, semuanya terasa sederhana tapi membuat hati bahagia. Kalau dapat ikan bisa langsung dibakar dengan ranting pohon atau jerami kering di sawah, atau dibawa pulang untuk dimasak ibu atau dipelihara. Ah betapa indahnya…


3. Sawah yang hijau

Di kota mungkin kita masih dapat menjumpai sawah tapi tentu berbeda dengan di kampung. Di kampung sawah menghampar luas sejauh mata memandang, tidak ada gedung yang memagari. Saya suka main di sawah. Dulu, saya punya kelinci namanya si putih. Tiap hari saya harus carikan rumput. Selain rumput, disana ada banyak kangkung, dan bayam liar. Si putih paling suka makan kangkung dan bayam. Kenangan saat mencari rumput di tengah sawah yang hijau, dengan panorama langit biru dan gunung, angin sepoi yang membelai, tak akan pernah tergantikan. 

sawah
Selesai cari rumput, saya biasanya singgah sebentar di gubug tangah sawah, nimbrung dengan para petani yang merebahkan badannya setelah mencangkul, dengan diiringi lagu dangdut era 90an dari radio, kadang kalau beruntung, saya disuguhi dengan teh hangat dan singkong rebus. Hal semacam ini sangat sulit dijumpai di kota bukan?



Nah itulah beberapa hal yang membuat saya rindu kampung halaman saya di desa. Masih ada banyak hal unik tentang kampung halaman yang ingin saya ceritakan kepada pembaca yang budiman, tetapi karena postingan ini sudah terlalu panjang, maka akan saya buat postingan yang kedua sebagai kelanjutan postingan ini. Jangan bosan mengunjungi blog ini ya, semoga bermanfaat dan terima kasih.





Demikianlah Artikel Rindu Kampung Halaman

Sekianlah artikel Rindu Kampung Halaman kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Rindu Kampung Halaman dengan alamat link https://askep-nursing.blogspot.com/2017/10/apa-yang-membuat-saya-rindu-kampung.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar